Bagi para pembaca yang berasal dari gereja Reformed atau yang berasal dari tradisi Calvinist, mungkin kita akan lebih mengenal istilah-istilah seperti “Calvinisme”, akronim “TULIP” (Total Depravity, Unconditional Election, Limited Atonement, Irresistible Grace, Perseverance of the Saints), “predestinasi ganda” (double predestination), “kedaulatan Allah” (Sovereignty of God), “kehadiran spiritual dalam perjamuan kudus” (Spiritual Presence), dan lain sebagainya. Istilah-istilah seperti demikian bisa dipahami sebagai sebuah konsep theologis. Dalam hal ini, seorang jemaat yang berbagian dalam tradisi Calvinist biasanya mempunyai pemahaman theologis yang cukup memadai.
Akan tetapi, ketika seorang jemaat Calvinist atau seorang Kristen-Protestan ditanya tentang sejarah gereja, bapak-bapak gereja, dan juga tentang konsili-konsili yang berkembang setelahnya, biasanya kita akan memiliki kesulitan untuk menjawab dan menjelaskannya secara rinci. Bayangkan kita sudah lama bergereja di suatu tempat, mempelajari istilah-istilah doktrinal, nama-nama tokoh, mengenal pendeta dan penatua, dan setiap minggu mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Akan tetapi, ketika ditanya oleh orang: “dari mana dan mengapa Anda percaya hal-hal seperti itu?” Barangkali kita bisa bingung dan perlu belajar asal-usul perkembangan semua ini. Dengan mempelajari sejarah gereja, maka kita akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas tentang kekristenan, serta bagian tubuh Kristus yang lain (Katolik, Koptik, Ortodoks, Luteran, Anglikan, dst).
Tanpa harus kehilangan tradisi yang telah Tuhan percayakan kepada kita, kita bisa mengenal dan berdialog dengan saudara Kristiani lainnya. Malah, dengan dialog seperti demikian yang dibentuk dari pengenalan akan sejarah gereja, kita akan diberikan sebuah lensa untuk lebih mengenal identitas kita sendiri, yang disalurkan melalui John Calvin, khususnya yang berkenaan dengan ajaran (tradisi) dan sistem pemerintahan presbiter. Lagipula, mengingat bahwa tahun 2025 adalah peringatan 1700 tahun Pengakuan Iman Nikea yang terjadi pada tahun 325, artikel ini ditulis untuk menjelaskan perkembangan tradisi Calvinist secara singkat dari konsili ekumenis pertama.
Sebelum Konsili Nikea
Pada masa itu, Alkitab seperti yang kita ketahui hari ini belum banyak dicetak (belum ada mesin cetak juga). Dengan demikian, para jemaat gereja belajar tentang iman Kristen menurut tutur kata dan tradisi lisan yang disampaikan oleh para uskup (episkopos/presbiteros) yang mengepalai sebuah kota. Para uskup ini dipercaya sebagai tokoh-tokoh iman yang mewariskan ajaran rasuli dari para rasul dan para bapak gereja. Para bapak gereja yang cukup dikenal adalah Polikarpus dari Smirna dan Ignatius dari Antiokia, yang adalah murid langsung dari Rasul Yohanes yang berdiri di depan salib Yesus dan menulis Kitab Wahyu.
Bayangkan pada saat itu terdapat banyak sekali orang yang mengaku “dipenuhi roh”, termasuk oleh “roh kudus” dalam ajaran Montanisme, di mana setiap individu dapat menyatakan dirinya telah mendapatkan wahyu, kebenaran, mimpi, dan lainnya – masyarakat pada gereja mula-mula mengalami sebuah kebingungan. Mungkin dalam konteks hari ini, kita akan menemukan banyak tokoh-tokoh “rohani”, “pendeta”, yang mampu berkhotbah, bernubuat, bahkan melakukan mukjizat. Akan tetapi, masing-masing dari mereka memiliki sebuah tafsir pribadi dan penyampaian tentang ajaran yang berbeda-beda. Bagi kita hari ini, yang sudah berpegang pada Alkitab secara tertulis maupun digital, bisa saja membandingkan ajaran individu tersebut dengan ayat-ayat Kitab Suci, untuk memvalidasi apakah suatu ajaran benar atau salah. Akan tetapi, bagaimana dengan jemaat Kristen mula-mula yang pada saat itu belum mempunyai Alkitab seperti kita hari ini?
Di tengah banyaknya ajaran sesat seperti Gnostisisme, Dosetisme, Montanisme dan Injil-Injil palsu, Ireneaus yang adalah murid langsung dari Polikarpus, mengajarkan kepada para jemaat untuk menelusuri asal-usul ajarannya dari para uskup yang ditahbiskan oleh para rasul. Seperti seorang guru meneruskan ajarannya kepada murid, dari murid kepada muridnya lagi, dan terus menerus bagaikan sebuah rantai darah kekeluargaan, demikianlah cara sebuah ajaran akan iman yang benar dilestarikan pada masa gereja mula-mula. Mengingat bahwa pada saat itu Alkitab belum dicetak maupun memiliki banyak salinan untuk dibaca oleh para jemaat secara massal, maka “suksesi apostolik” (apostolic succession) menjadi sebuah metode yang sangat penting untuk menjaga keabsahan ajaran sebuah gereja. Bagi saudara-saudara dari tradisi Katolik Roma dan Ortodoks, suksesi seperti ini dapat ditarik sampai kepada asal-usulnya sampai kepada para rasul. Bagi kaum Protestan, “suksesi apostolik” adalah ajaran para rasul dan nabi seperti yang ditulis dalam Kitab Suci, baik itu yang berasal dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Seperti seorang guru meneruskan ajarannya kepada murid, dari murid kepada muridnya lagi, dan terus menerus bagaikan sebuah rantai darah kekeluargaan, demikianlah cara sebuah ajaran akan iman yang benar dilestarikan pada masa gereja mula-mula.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16-17)
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tesalonika 2:15)
Selain daripada ajaran para rasul, para jemaat Kristen mula-mula mempunyai teks Perjanjian Lama untuk dibaca dalam ibadah bersama. Sama seperti Yesus ketika membacakan kitab Yesaya saat Dia masuk ke dalam sebuah sinagoge, demikian juga konteks liturgi gereja mula-mula dalam sebuah “sinode Kristiani”. Ketika ada surat-surat dari Rasul Paulus, Petrus, dan Yohanes, maka surat tersebut akan dibacakan dalam ibadah secara komunal, dan tulisan para rasul akan disalin kembali, dilestarikan, dan disembunyikan sebab gereja pada saat itu sedang berada pada persekusi selama 300 tahun pertama.
Pengakuan Iman Nikea (Tahun 325)
Setelah melalui 300 tahun persekusi yang berdarah, umat Kristiani tidak lagi mengalami penindasan yang serupa. Kekaisaran Romawi di bawah Kaisar Konstantin, melalui Edict of Milan (tahun 313), sudah diubah menjadi kekaisaran Romawi-Kristen. Agama Kristen menjadi sebuah agama formal kekaisaran Romawi, dan banyak yang masuk Kristen untuk mendapatkan jabatan sebagai pemimpin negara. Tidak semua anggota gereja adalah mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, tetapi lebih banyak anggota di dalamnya yang masih terombang-ambing dengan ajaran di luar iman Kristen. Ada yang membawa paganisme dan gnostisisme ke dalam gereja, dan belum tentu mereka betul-betul setia menjadi pengikut Yesus. Oleh karena itu, mudah sekali sebuah ajaran sesat masuk, sebab ajaran seperti demikian lebih mudah diterima dibandingkan dengan ajaran iman yang ortodoks (ortodoks berarti “jalan yang lurus”).
Kekristenan mungkin saja sudah lebih “menetap” (settle), tetapi sepertinya kekristenan disusupi oleh sebuah ajaran sesat, sebagaimana sudah sering terjadi sejak gereja mula-mula, yaitu pada masa para rasul dan para bapak gereja (Patristik). Kali ini, seorang biara gereja (presbiter) bernama Arius menyatakan sebuah ajaran yang kemudian bergema di kekaisaran Romawi. Arius adalah seorang yang sangat berkarismatik (bukan “karismatik” dalam arti memiliki karunia roh), yaitu dia memiliki kemampuan orasi yang sangat hebat dan mampu menarik banyak orang untuk mengikuti ajarannya. Sedikit catatan, sebuah ajaran sesat yang menjamur di tengah masyarakat atau terbentuknya sebuah kultus akan digerakan oleh seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk berbicara dengan sangat hebat.
Sebagaimana Hitler pernah memimpin Nazi Jerman untuk melawan Eropa atau Sukarno menarik hati masyarakat Indonesia untuk melawan penjajah, Billy Graham dan John Sung yang memimpin Ibadah KKR untuk menyadarkan manusia akan dosa, Benny Hinn yang memimpin “ibadah” dengan segala emosionalitas – demikianlah kuasa dari lidah para pemimpin karismatik dalam menggerakan sebuah bangsa dan gereja, terlepas pengaruhnya itu mengarah kepada hal yang positif maupun yang negatif. Kali ini ada seorang uskup yang mengajarkan suatu ajaran “baru dan berbeda”, yang lain daripada yang sudah-sudah diajarkan dalam gereja.
Yang diucapkan oleh Arius bukanlah tentang struktur pemerintahan gereja atau tentang permasalahan Perjamuan Kudus – apakah roti dan anggur adalah tubuh dan darah Kristus, atau persoalan mekanisme keselamatan (soteriologi), purgatori, dan kehidupan setelah mati. Yang menjadi pemasalahan terbesar adalah Arius menyerang identitas Allah Trinitas sendiri dengan menyatakan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, melainkan hanya manusia yang diciptakan. Dalam triage of theology, atau “piramida doktrinal”, yang paling penting dan diprioritaskan adalah tentang Allah Trinitas dan keilahian Yesus (solus Christus) serta keselamatan berdasarkan anugerah melalui iman (sola gratia). Urusan lain adalah hal sekunder, tetapi untuk urusan primer, salah ajaran akan menentukan hidup dan mati kekal.
Bagi para pembaca yang belum sungguh-sungguh mengenal doktrin Allah Trinitas, mungkin saja ajaran yang ditawarkan oleh Arius cukup “masuk akal” (make sense). Bagaimana mungkin Allah adalah satu dan tiga sekaligus? Jika Allah itu satu, ya berarti Allah itu satu dalam monoteisme. Jika Allah itu tiga (trideis), ya berarti itu adalah kumpulan para dewa yang beroperasi dalam sistem politeisme. Prinsip unitarian ini sebetulnya sudah cukup populer di kalangan orang Yahudi, di mana Allah yang disembah itu hanya satu (yachid). Ajaran orang Yahudi pada masa Yesus dan juga pada abad pertama dan kedua, sampai hari ini juga, sebetulnya sudah sangat ketat dengan monoteisme mutlak. Ketika Justin Martir berdialog dengan Trifo, seorang Yahudi, berkali-kali dijelaskan bahwa Trifo tidak percaya Yesus sebab manusia mesias bukanlah Tuhan. Jika Tuhan adalah Tuhan, maka tidak ada entitas lain, entah itu malaikat maupun manusia, yang patut disembah – termasuk Yesus Kristus yang diurapi sebagai mesias itu.
Sebelum berkembangnya ajaran Islam yang menjelaskan monoteisme mutlak (tauhid) ataupun ajaran Saksi Yehowah, oneness dan unitarianism yang menitikberatkan pada keesaan Allah, sebetulnya Arianisme adalah sebuah ajaran monoteisme yang sangat populer di kalangan Kristiani pada masa itu. Monoteisme adalah sebuah ajaran yang sangat mudah.: jika Tuhan itu satu, maka itu memudahkan kita untuk menyembah yang satu itu. Bukankah Yesus sendiri berkata, “seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan?” dan bukankah prinsip keesaan Allah sudah diajarkan dalam Perjanjian Lama, di mana Allah hanya satu? “Dengarlah hai Israel: Allah itu satu, Allah itu esa!” Bagi jemaat gereja mula-mula yang hidup selama 300 tahun pertama itu, ada kemungkinan bagi mereka yang sudah familiar akan ajaran keesaan Allah, malah menjadi bingung dengan makna Allah Trinitas. Ya, Allah itu satu, yaitu Allah Bapa. Akan tetapi, untuk menyebut Yesus sebagai “Anak Allah” (Son of God), itu menunjukkan bahwa “Yesus bukan Allah, tetapi anak yang lebih rendah daripada Allah Bapa”. Bisa jadi, Yesus seperti demikian adalah seorang malaikat, seorang manusia yang bisa melakukan banyak mukjizat, mati dan bangkit dan diangkat ke surga, memenuhi segala kriteria sebagai seorang mesias seperti yang dijanjikan Allah menurut Perjanjian Lama – tetapi belum tentu Yesus adalah Allah yang Ilahi itu sendiri. Dengan demikian, permasalahan yang muncul dari hal ini bukanlah “apakah kamu percaya kepada Yesus?” Saya mengutip dari Walter Martin, seorang apologet asal Amerika, yang akan menjawab pertanyaan itu dengan “Yesus yang mana?”
Bagi penganut agama Islam, syahadat yang dibunyikan adalah “tidak ada Allah lain selain Allah”. Bagi kita, “tidak ada Allah lain selain Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus”, yang kita akui dalam syahadat Kristen Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nikea. Lalu lantas mengapa ajaran Arianisme yang sedemikian lebih make sense menurut akal manusia, tetap dipandang sebagai sebuah ajaran sesat? Jika Tuhan itu satu, mengapa “embel-embel” harus ditambahkan dengan “Trinitas”? Bagi kita pengikut Yesus yang cukup tahu istilah “Trinitas”, dan mungkin saja sudah mempercayainya bahwa “Allah itu satu dan tiga Pribadi”, apakah kita sungguh-sungguh pernah mendalami mengapa Allah yang sejati adalah Allah yang Trinitas (the true God is the Triune God).
Beberapa Pokok Ajaran Arianisme
Ajaran mengenai Arianisme tercatat dalam tulisan Bapa Gereja Athanasius, Defense Against the Arians. Bagi pembaca yang pernah mendengar nama Athanasius, bapak gereja satu ini adalah tokoh yang ditantang oleh seseorang, “tahukah bahwa kamu seorang diri melawan seluruh dunia?” Ucapan itu adalah sebuah konfrontasi terhadap seorang Kristen yang setia mengikut Yesus menurut ajaran para nabi dan rasul, yaitu yang berasal dari Kitab Suci. “Jika seluruh dunia melawan aku, maka aku pun akan melawan seluruh dunia!” demikian balas Athanasius. Jika seluruh dunia pada saat itu menganut monoteisme mutlak, maka Athanasius akan membela Trinitarian, yaitu identitas Allah yang Alkitabiah. Dengan kata lain, ketegasan Athanasius menyatakan bahwa “di luar Allah Trinitas, tidak ada keselamatan”.
Ada beberapa pokok ajaran Arianisme yang dilawan oleh Athanasius.
- Tuhan berada tanpa suatu sebab. Dalam arti, Allah Bapa ada tanpa sebuah sebab.
- Allah Bapa yang menjadikan Allah Anak (Yesus) menjadi ada.
- Allah Anak adalah ciptaan.
- Melalui Allah Anak, Allah Bapa menciptakan segala sesuatu.
Di tengah pergelutan antara ajaran Trinitarian dan Arianisme, kaisar Konstantin yang memanggil para uskup di Romawi Timur dan Barat, yang berdasarkan catatan sejarah berjumlah 250-318 uskup, untuk mengadakan sebuah konsili demi meluruskan ajaran gereja. Pertemuan yang mengundang seluruh para uskup ini yang kemudian disebut sebagai “konsili ekumenis”. Ekumenis berarti universal. Dalam konsili ini, terjadi sebuah perdebatan sengit mengenai satu pertanyaan, “Apakah Kristus adalah ciptaan atau Pribadi Allah yang ilahi dan kekal?”
Arius dan dua pengikutnya, Theonas dan Secundus, berdebat keras di dalam konsili tersebut. Perdebatan di dalamnya cukup keras sampai saja St Nicholas (yang nantinya menjadi inspirasi Santa Claus) menonjok Arius di tengah konsili tersebut ketika dia mendengar argumentasi dari Arius. Pada akhirnya, dari konsili tersebut, hampir secara bulat seluruh uskup yang hadir menyetujui bahwa ajaran Arius adalah ajaran sesat, sebuah bidat, dan mendeklarasikan untuk membakar tulisan-tulisannya. Dari konsili inilah nantinya dirumuskan Pengakuan Iman Nikea yang menyatakan bahwa “Allah Putra adalah Terang yang keluar dari Terang, diperanakan, dan bukan diciptakan.” Yesus adalah satu hakikat (homoousios), satu esensi dengan Allah Bapa. Jika Allah menyelamatkan, dan Yesus menyelamatkan manusia melalui kematian dan kebangkitan-Nya, maka Yesus adalah Allah.
Di tengah pergelutan antara ajaran Trinitarian dan Arianisme, kaisar Konstantin yang memanggil para uskup di Romawi Timur dan Barat, yang berdasarkan catatan sejarah berjumlah 250-318 uskup, untuk mengadakan sebuah konsili demi meluruskan ajaran gereja.
Setelah konsili ini, Arius telah mati tetapi kerkembangan Arianisme tetap menjamur di wilayah eropa Barat. Sampai saja dalam konsili Toledo pada tahun 589, gereja Barat menambahkannya Filioque (and the son) ke dalam Pengakuan Iman Nikea untuk menitikberatkan keilahian Yesus. Tentunya, hal ini akan menimbulkan perpecahan dengan gereja Timur yang memuncak pada tahun 1054, yang disebut juga sebagai Skisma Besar (The Great Schism). Jadi, kita dapat membayangkan betapa besar dan berpengaruhnya ajaran sesat seperti Arianisme dan segala modifikasinya (unitarianisme, saksi yehowah, oneness Pentecostals, dll).
Bagi kita yang hidup di abad ke-21, peristiwa ini mungkin adalah sebuah peristiwa sejarah yang sudah berlalu lama. Bagi kalangan monoteis, yaitu kalangan Islam dan Yahudi-Yudaistik, konsili Nikea adalah sebuah peristiwa yang melakukan “deifikasi Yesus”, mengangkat Yesus menjadi Ilahi. Akan tetapi, bagi orang Kristen yang hidup pada masa itu, setelah melalui ombang-ambing ajaran selama 12 tahun sejak Edict of Milan pada tahun 313 ketika kekristenan diresmikan sebagai agama negara, konsili Nikea adalah “batu pertama” dalam meletakan seluruh doktrin pokok dalam sejarah gereja untuk 1700 tahun kemudian, sampai hari ini. Doktrin Allah Trinitas, doktrin keselamatan, doktrin gereja, yaitu doktrin-doktrin paling pokok bagi seluruh gereja yang berkembang di masa yang akan datang berawal dari konsili ini. Tradisi Katolik Roma, Ortodoks Koptik, Ortodoks Timur, Protestan Klasik (Luteran, Calvinist, Anglikan), termasuk Protestan non-Konfesional (Anabaptis, Metodis, Pentakosta, Karismatik, dll) – semuanya akan mengacu kepada Pengakuan Iman Nikea, yang menitikberatkan keilahian Yesus dan Allah Trinitas.
Dalam Institutes yang ditulis oleh John Calvin, Buku ke-4 dan Bab ke-9, mengenai Konsili dan Otoritasnya, Calvin mengakui otoritas konsili yang dihadiri oleh para uskup. “Di mana ada dua atau tiga berkumpul dalam nama-Ku, maka Aku hadir di dalamnya”, demikian juga Kristus akan hadir di dalam konsili tersebut. Bagi Calvin, tidak semua konsili ditolak. Konsili-konsili seperti Nikea, Konstantinopel, Efesus Pertama, Kalsedon, dan yang serupa berguna untuk mengoreksi ajaran yang salah, dan dipandang sebagai hal yang kudus. Hal ini dikarenakan adanya sebuah interpretasi yang setia akan Kitab Suci, di mana para Bapak Gereja telah melakukannya untuk melawan ajaran sesat. Tidak hanya Arius, Nestorius yang mengajarkan bahwa Maria adalah “bunda manusia Yesus”, bukan Bunda Allah, juga ditolak dalam konsili Efesus.
Akan tetapi, Calvin juga menyatakan akan penolakannya pada konsili-konsili lain yang berlawanan dengan ajaran Kitab Suci. “Roh Kudus tidak diikat dalam konsili”, demikian penegasan dari Calvin terhadap kuasa manusia yang mencoba untuk meninggikan diri. Ketika ada keputusan yang saling bertolakbelakang, maka Alkitab tetap menjadi patokan utama yang memberikan keputusan terakhir (the final say) dalam merumuskan ajaran-ajaran gerejawi.
Mengapa Allah Trinitas
Kembali kepada pertanyaan di awal: “Mengapa kita percaya kepada Allah Trinitas dan bukan kepada Allah yang lain? Dan bagaimana hal itu mewarnai ajaran iman Kristen Reformed yang dipeluk oleh jemaat dalam gereja Calvinist?”
Sedikit catatan, pemahaman akan Allah Trinitas bukanlah miskonsepsi tentang Allah Trinitas. Kita tidak percaya kepada Sabelianisme, yang menyatakan bahwa ada satu Allah dengan tiga peran. Kadang Allah menjadi Allah Bapa, kemudian berubah peran menjadi Allah Anak, dan kemudian menjadi Allah Roh Kudus. Kita juga tidak percaya kepada Monarkisme, di mana Allah Bapa berada di atas Allah Anak dan Roh Kudus. Akan tetapi, iman kepada Allah Trinitas, di dalam hal ini, adalah kepercayaan kepada “Allah yang berelasi”. Allah adalah relasi hidup antara Ketiga Pribadi Mahakudus dalam kesatuan yang kekal. Ketika kita percaya kepada Allah Trinitas, maka kita percaya kepada Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Kasih hanya mungkin jika Allah adalah Ketiga Pribadi yang berelasi.
Allah Bapa merancang segala ciptaan (pikiran), Roh Kudus adalah nafas Allah yang memberi hidup (nafas), dan Allah Putra adalah Firman yang menjadi daging (kata-kata). Pikiran, kata-kata, dan nafas yang bersatu dalam ucapan. Demikian juga, manusia yang dicipta menurut peta teladan Allah, menurut persekutuan yang berkata-kata dalam kasih, mencerminkan sifat Allah Trinitas.
Hal ini sangat berbeda dengan Allah monoteis mutlak. Ketika manusia percaya kepada Allah yang tunggal, maka manusia sedang menaruh hidupnya kepada Allah yang cenderung impersonal. Dia adalah Tuhan yang sendirian, yang mengawali segala ciptaan dengan kemahakuasaan, tetapi tidak merancang ciptaannya dengan mula yang hampa akan kasih. Ketika manusia berdosa, maka satu-satunya jalan untuk “diselamatkan” adalah ketika ciptaannya melakukan perbuatan baik untuk “menyenangkan” hati Allah yang mahakuasa – itupun jika Entitas super seperti ini berkenan kepada ciptaannya. Manusia yang hidup dalam realitas ini akan dipenuhi dengan kecemasan, mungkin saja dia akan terkena hukuman ataupun bila dia lepas dari hukum, belum tentu dia bebas dari rasa takut. Dia bisa saja bersyukur dari ketakutan akan neraka, tetapi tidak bisa mengasihi Allah itu sebagai seorang Bapa. Allah monoteis mutlak adalah Allah yang berkuasa dengan dingin. Sang Tunggal berada di atas sana, jauh dari ciptaan, dan tidak ada yang dapat menghampirinya. Manusia bisa mencoba mendekatinya dengan pengetahuan mistis (gnosis) maupun dengan tindakan religius yang etis, tetapi itu tetap saja bukanlah sebuah kisah keselamatan.
Akan tetapi, Allah yang dipercaya dalam Yesus, adalah seorang Bapa yang mengasihi anak-Nya. Barangsiapa menaruh kepercayannya dalam Yesus, dia akan dipandang oleh Bapa sebagai seorang anak, dan bukan hanya sebagai mantan narapidana yang dibebaskan dari hukuman. Surga bukanlah sebuah tempat di mana manusia berkejar-kejar untuk melarikan dirinya dari neraka, tetapi surga adalah tempat untuk berpulang. Manusia yang diselamatkan bukanlah mereka yang berbuat baik untuk “membeli surga” demi lolos dari hukuman, tetapi yang berbuat baik untuk mencerminkan karakter Bapa-Nya di surga. Allah Trinitas mencipta dunia bukan untuk menunjukkan kekuasan-Nya, tetapi karena Dia terlebih dahulu ingin membagikan kasih-Nya yang kekal kepada ciptaan-Nya, yaitu gereja – sang pengantin dari Allah Putra. Sebelum dunia dijadikan, Tuhan sudah mengetahui akan masuknya dosa, dan Dia memilih untuk turun ke dunia demi menyelamatkan dan membawa umat-Nya kembali berpulang. Inilah Allah yang dipercaya oleh orang Kristen: “bukan manusia yang datang mencari Allah, tetapi Allah yang mencari manusia”. Kasih Allah yang kekal adalah kisah anugerah yang menjadi keunikan iman Kristen.
Dalam ajaran tradisi Reformed, kita percaya bahwa Allah adalah Tuhan yang berdaulat (sovereign). Akan tetapi, Allah yang berdaulat ini turut membatasi dan mengikat diri-Nya dalam perjanjian kasih dengan manusia (covenant). Dia yang mengawali pekerjaan baik akan memelihara sampai akhir. Tuhan yang mempredestinasikan umat pilihan-Nya, tidak melakukannya dengan sifat-Nya yang mahakuasa saja, melainkan karena Dia sudah menetapkan Diri-Nya sendiri untuk ditolak karena dosa kita, agar kita dapat diterima di dalam pilihan kekal-Nya.
“Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu — sebab kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa — melainkan karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.” (Ulangan 7:7-8)
Bukan karena kita lebih baik, rohani, berapi-api secara pelayanan dan doktrinal daripada orang lain sehingga kita dipilih-Nya. Bukan! Justru karena kitalah manusia berdosa yang tidak akan pernah bisa memilih kebaikan (total depravity). Sebaliknya, karena Allah sendiri ingin mengasihi kita, maka kita dipilih-Nya. Allah mengasihi karena Allah Trinitas sendiri adalah kasih, dan Dia mengasihi semata-mata Dia ingin membagikan kasih kekal-Nya kepada umat milik-Nya. Kebaikan kita tidak membuat kita lebih baik, kesalahan kita tidak membuat kita tak layak dikasihi. Tuhan sudah mengasihi kita sebagai anak-Nya, kita tinggal memberi diri untuk dikasihi-Nya.
Jika Allah hanya berdaulat (sovereigntism), maka Allah seperti demikian tidak berbeda dengan Allahnya Arius, Allahnya Muhammad, maupun Allah dari para rabi Yahudi yang besar dan berkuasa, tetapi jauh di luar sana. Di dalam Roh Kristus, kita dapat menyebut-Nya sebagai “Abba”. Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nikea diawali dengan sebuah ucapan: “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa”. Kita percaya kepada Allah Bapa yang mengikat janji keselamatan melalui Putra dan Roh-Nya yang kekal, yang menjadikan kita sebagai anak milik-Nya, sebagai biji mata dan nama-nama yang diukir dalam telapak tangan-Nya.
Kevin Nobel Kurniawan
Pemuda GRII Pusat
