Apabila kita mempelajari kehidupan seorang pengikut Yesus, perjalanan kita di tengah dunia ini bagaikan seorang musafir yang diutus ke tengah dunia. Bagi yang cukup familiar dengan buku yang ditulis oleh John Bunyan, The Pilgrim’s Progress (Perjalanan Sang Musafir), kita akan menemukan suatu cerita tentang setiap diri kita, engkau dan saya, dalam suatu peziarahan batin menuju kota Allah (the celestial city). Perjalanan tersebut bermula dengan seorang bernama “Kristen” yang harus meninggalkan kota kehancuran (the city of destruction). Dia harus memilih untuk mengikut perintah dalam Kitab Suci untuk meninggalkan Kota Dunia atau memilih untuk berdiam bersama keluarganya. Maka, protagonis itu meninggalkan keluarganya dan berjalan menuju Kota Allah, suatu kota yang akhirnya dia capai setelah melalui lembah kematian. Tidak hanya itu, seisi keluarga protagonis, Kristiani dan ketiga putranya, juga menyusul jejak sang ayah menuju Kota Surga yang dijanjikan itu.
Novel berbahasa Inggris pertama yang ditulis oleh John Bunyan adalah suatu buku yang ditulis pada masanya di balik penjara. John Bunyan menulis suatu karya besar yang sampai hari menjadi buku kedua yang paling banyak dibaca selain daripada Alkitab. Buku The Pilgrim’s Progress sudah diadopsi menjadi suatu film, dan saya sangat menganjurkan para pembaca untuk membaca dan menonton, serta mengantarkan cerita The Pilgrim’s Progress sebagai salah satu koleksi cerita fiksi Kristen yang diberikan kepada anak-anak. Selain dari Chronicles of Narnia dari C.S Lewis, The Lord of The Rings dari J.R.R Tolkien, karya John Bunyan turut menjadi suatu karya fiksi Kristen yang bisa kita pelajari dan nikmati bersama. Mereka adalah sastrawan Kristen yang merangkum kisah Alkitab dalam bentuk fiksi yang tidak terlupakan. Dari manakah konsep peziarahan dan pertarungan rohani ini berasal?
Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak para pembaca untuk berkenalan dengan suatu buku The City of God, suatu karya dari Agustinus dari Hippo. Bapak Agustinus menulis sangat banyak buku. Di antara yang ternama adalah Pengakuan-Pengakuan (The Confessions) dan Kota Allah (The City of God). Karya pertama bercerita tentang perjalanan Agustinus menuju pertobatan dan juga bagaimana dia memandang anugerah Allah yang dikaruniakan kepadanya melalui sang ibu Monika dan sang guru Ambrosius, yang pada akhirnya mengubah seorang manusia yang kecanduan dengan nafsu badainya, menjadi bapak gereja besar dalam gereja Barat, baik itu gereja Katolik maupun Protestan historis. Karya kedua adalah suatu kumpulan tulisan sistematik dari Agustinus yang merangkai suatu susunan doktrinal secara sistematik, serta menjadi suatu tulisan apologetis yang menolak tuduhan orang Roma yang mengkambinghitamkan orang Kristen atas kehancuran kekaisaran Romawi. Agustinus menulis berbagai karya tentang para dewa, kehancuran Romawi yang disebabkan oleh dosa, serta posisi umat Kristiani di tengah dunia untuk menjadi garam dan terang.
Apabila teman-teman membaca karya Kota Allah, kita akan relate dengan permasalahan sosial yang sedang kita hadapi di Indonesia. Agustinus membedakan kota Dunia dan kota Allah. Salah satu kota bekerja dengan prinsip kekuasaan yang tertuju kepada kematian, yang satu lagi bekerja dalam prinsip kasih yang tertuju kepada hidup yang kekal. Di tengah dunia, kita semua sedang berada dan menduduki Kota Dunia, baik itu orang yang percaya Yesus maupun tidak. Kita hidup dalam suatu sistem yang beroperasi dalam logika kekuasaan (will-to-power). Akan tetapi, di kota tersebut juga ada umat Kristiani yang kewarganegaraan asalinya berasal dari Kota Allah, yang sedang mengalami proses peziarahan untuk bersaksi di Kota Dunia, beradaptasi dan melakukan resistensi terhadap tawaran dunia. Demikian juga dengan kondisi kita saat ini, kita sedang berada di “Kota Dunia Indonesia”. Sistem kekuasaan Jawa dengan siklus naik-turunnya raja Jawa dan ratu Adil, serta pertarungan antara “dua matahari” yang sedang menyebabkan konflik politik Prabowo-Jokowi, menjadi suatu gempa yang mengganggu sistem yang sedang bekerja saat ini.
Bagaimana kita sebagai umat Kristiani harus hidup dan bersaksi di tengah kota dunia Indonesia?
Sistem Kekuasaan dalam Kota Dunia
Apabila kita mempelajari sejarah Nusantara, yaitu sebelum lahirnya Indonesia sebagai negara-bangsa yang berdaulat, kerajaan Majapahit seringkali dipandang sebagai suatu “negara prototipe”. Luas wilayah Majapahit berkembang dengan sangat besar, layaknya kekaisaran Romawi di Eropa Barat dan Timur pada saat itu. Bayangan masyarakat Nusantara yang bangga akan masa keemasan dan kejayaan Nusantara berpijak pada kerajaan Majapahit itu. Raja Jawa Hayamwuruk dan jenderal besarnya Gajah Mada menjadi tokoh-tokoh besar yang membuat mereka ingin membawa Indonesia kembali ke masa kerajaan itu. Setelah kolonialisme VOC-Belanda dan Jepang, masa revolusi Indonesia menginginkan suatu gerakan kembali kepada situasi sosial pada masa majapahit. Pada masa Orde Lama dan Orde Baru, tokoh kharismatik seperti Soekarno dan Soeharto adalah refleksi dari bangkitnya Raja Jawa yang mencoba membawa kembali kerajaan Majapahit ke dalam konteks Indonesia pasca kemerdekaan. Tidak hanya itu, konsep utopis “Indonesia Emas 2045” juga merujuk kepada kerajaan Majapahit yang dulunya pernah mengalami masa keemasan yang tidak tertandingi.
Lalu, apa yang menjadi masalah dengan “Kota Dunia Majapahit” di Indonesia?
Salah satu permasalahan yang kita hadapi dalam masyarakat Indonesia adalah terjadinya pengkultusan terhadap raja Jawa dan sentralisasi kekuasaan yang berakibat pada korupsi. Pada artikel sebelumnya, Kegelapan di Balik Janji Emas,[1] saya pernah menjelaskan tentang struktur kekuasaan yang dipahami dalam kebudayaan Jawa.[1] Pada dasarnya, kebudayaan Jawa menitikberatkan keabdian individu kepada Allah sebagai Satu Asal (Sang Gusti, Sang Hyang Tunggal) dan membangun harmon[2] i dalam kehidupan sosial dan ekologis. Kehadiran raja Jawa sebagai raja dan orang sakti berperan sebagai titik sentral untuk membangun harmonisitas antara dunia alam, dunia sosial, dan dunia spiritual. Titah sang raja dipandang sebagai suara nabi yang akan berdampak ke dalam kehidupan sosial, dan posisinya sebagai imam berdiri di antara dunia spiritual dan dunia alam. Jadi, seorang raja Jawa betul-betul mempunyai posisi yang sangat penting dalam benak masyarakat Jawa. Di Indonesia, sosok raja Jawa dapat ditemukan dalam kehadiran Sultan di Yogyakarta dan para presiden yang menduduki takhta kekuasaan dalam panggung pemerintahan.
Dalam hal ini, sebagai warga Indonesia, kita dapat mengkritik konsep kekuasaan yang ditawarkan dalam konsep raja Jawa di tengah Kota Dunia Indonesia. Yang pertama, secara konstitusional seorang presiden bukanlah raja Jawa. Presiden bertanggung jawab kepada rakyat yang memilihnya melalui pemilihan umum. Dalam sistem pemerintahan republik, rakyat berhak untuk meminta pertanggungjawaban dari presiden, bahkan untuk menjatuhkannya melalui MPR-DPR apabila terjadi suatu pelanggaran yang sungguh mengecewakan. Sistem republik yang ditawarkan oleh Jean-Jacques Rousseau dalam karyanya, Kontrak Sosial (The Social Contract), menandakan bahwa pemimpin tertinggi negara sekalipun wajib tunduk kepada hukum dan suara rakyat. Dengan kata lain, apabila kita merasa tidak puas terhadap presiden, sepatutnya kita tidak memandang presiden sebagai raja yang mengatasi hukum maupun rakyat yang memilihnya.
Yang kedua, andaikan seorang presiden mengambil posisi sebagai raja Jawa serta melakukan sentralisasi kekuasaan yang absolut, maka itu menjadi suatu pelanggaran terhadap prinsip kekuasaan. Dalam hal ini, terdapat suatu kecenderungan dari kekuasaan Jawa untuk menjadi Leviathan. Menurut Thomas Hobbes, Leviathan adalah sosok penguasa yang menakut-nakuti rakyat agar tidak melakukan pelanggaran hukum dan pelanggaran moral. Demi membangun kestabilan sosial dan harmoni, maka Leviathan menjadi sosok monster yang memegang kendali penuh atas masyarakat. Selain Leviathan, tidak boleh ada entitas lain yang boleh memegang kekuasaan, termasuk kekuasaan yang bersifat sisa, agar seluruh kestabilan sosial dapat terjadi. Segala cara dapat dihalalkan selama kekuasaan absolut dapat dipertaruhkan untuk menjaga harmoni. Tampaknya, nuansa kekuasaan seperti ini cenderung terkesan Machiavellian[3] .[2] Akan tetapi, bila teman-teman membaca berita tentang bagaimana para pemimpin berkuasa, bagaimana oposisi disogok, diberikan kue, dan ditelan untuk tidak lagi memperhatikan kelompok rakyat kelas bawahnya sendiri, kita akan melihat dengan jelas pola-polanya.
Ketika Sistem Matrix Runtuh
Bagi sebagian besar orang Indonesia, sistem kekuasaan Jawa adalah suatu default system yang menjadi sistem matrix [4] yang menguasainya.[3] Itu adalah realitas satu-satunya yang dihidupi dan dipercaya sebagai jalan kehidupan. Ketika calon pemimpin dan sosok ratu adil yang menjadi sosok mesianis mencoba untuk naik dalam panggung pemerintahan, mereka akan melakukan kampanye dengan menawarkan roti dan sirkus (bread and circus). Bodohnya, melalui sistem demokrasi yang sudah matang secara prosedural, masyarakatnya dapat dihipnotis oleh “makan siang gratis” (bread) dan joget-joget tiktok (circus). Hal itu terjadi karena mayoritas masyarakat Indonesia kurang terdidik dan tidak sadar akan nurani kebangsaan. Menurut Yohanes Calvin, “apabila Allah ingin menghakimi suatu bangsa, maka Allah akan membangkitkan seorang pemimpin bengis untuk bertakhta atas bangsa itu”. Jika Allah sedang membangkitkan pemimpin yang keras dan korup, yang memandang rakyatnya sebagai salah satu anomali statistik, itu menunjukkan bahwa selama ini masyarakat Indonesia sudah banyak melakukan kesalahan: melupakan sejarah, memilih pemimpin yang memainkan hukum, dan memandang rendah etika. Dalam artikel Kegelapan di Ujung Kekuasaan[5] , saya memandang bahwa masyarakat kita sudah mengalami perasaan menyesal yang mendalam, tetapi tidak mampu melakukan apa-apa.[4]
Di tengah dua matahari yang saling bertarung dalam “saling melanjutkan” sekaligus “saling menggeser” satu sama lain, banyak sekali jiwa-jiwa yang menjadi korban ekonomi, korban politik, dan korban ekologis. Pada satu sisi, matahari lama (Jokowi) mulai terbenam dan memantau kondisi negara dari belakang layar dan di balik putranya yang menduduki posisi sebagai wakil presiden. Di sisi yang lain, matahari baru (Prabowo) mulai bangkit dan mencoba untuk menggeser Raja Jawa yang lama. Kubu kejaksaaan menjebak orang-orang Jokowi dalam hukuman penjara, kubu KPK menjatuhkan orang-orang Prabowo dalam kasus pemeriksaan korupsi. Yang satu dengan tim kepolisian, yang satu lagi dengan tim tentara. Siapa yang naik dan diturunkan dalam proses reshuffle kementerian menunjukkan negosiasi dan perebutan posisi politik tersebut. Tarik ulur dalam tali tambang tersebut menimbulkan banyak friksi dan peperangan internal dalam panggung pemerintahan. Korbannya, tokoh-tokoh masyarakat yang tulus dan juga masyarakat akar rumput yang sedang sekarat secara ekonomis.
Pada saat ini, ketika dua matahari saling bertarung, situasi bangsa-negara sedang mengalami suatu ketidakpastian yang sungguh mengkhawatirkan. Apakah nantinya hanya salah satu matahari yang berkuasa? Atau jangan-jangan, nanti akan muncul matahari ketiga yang akan menguasai dan menggeser dua yang sebelumnya. Entah apa pun itu hasilnya, panggung kekuasaan yang sedang bekerja saat ini sedang digelut oleh para tokoh yang ingin berkuasa, menyingkirkan dan menginjak yang lain untuk mengambil posisi yang lebih tinggi, atau kalau dia harus jatuh – dia akan menyeret yang lain bersamanya. SItuasi saat ini menjadi suatu bahan tontonan yang sangat kasar dan kotor, suatu pendidikan kewarganegaraan yang sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip yang termuat dalam Pancasila.
Sebagaimana setiap kekuasaan itu ada titik retaknya bila dikumpulkan terlalu kuat, maka demikian juga kita sedang melihat fase “retak menuju pecah”. Di bulan-bulan dan tahun-tahun yang mendatang, kita akan menyaksikan kenaikan biaya hidup, demonstrasi, kerusuhan, konflik internal militer yang akan mengarah kepada tindakan makar. Dalam skenario terbaik, kita akan melewati fase pemilihan pemimpin yang baru secara konstitusional pada tahun 2029 dengan kondisi finansial dan institusional yang sudah sangat buruk. Dalam skenario sedang, proses pemilihan presiden dan wakil presiden baru terpilih secara konstitusional walaupun dipenuhi dengan nuansa kerusuhan. Terakhir, dalam skenario terburuk, akan terjadi kerusuhan besar, berbagai kematian yang berdarah, dan juga perang sipil-militer antar kubu dan antara fraksi politik dan kelas ekonomi yang melibatkan unsur SARA (suku, agama, dan ras).
Warganegara Kerajaan Allah
Setelah kita memaparkan tentang kota dunia, dan dalam hal ini, sistem kekuasaan pada masyarakat Indonesia, kita akan melanjutkan analisis dengan posisi umat Kristiani di tengah krisis kekuasaan. Umat Kristiani bukanlah mereka yang lepas dan terkarantina dari realitas hidup. Sakit pahit yang terjadi di dunia juga turut dirasakan oleh warga kerajaan Allah. Perbedaannya adalah ketika warga dunia merasa kota Dunia adalah satu-satunya realitas sosial yang dihidupinya. Bagi mereka yang merasakan Kota Dunia sebagai satu-satunya realitas hidup, mereka akan melakukan segala cara, dengan mengkonstruksikan utopia dan menjalankan kekerasan untuk mewujudkan cita-cita fantasi itu. Sebaliknya, umat Kristiani menyadari bahwa realitas kota Dunia hanyalah salah satu Mesir yang sedang dihadapinya – masih ada Kota Perjanjian yang menanti di ujung perjalanan hidup yang sementara ini, dan Raja dari Kota Allah itu sudah hadir bersama-sama kita untuk berperang di tengah dunia yang rusak. Kita tidak perlu mengkonstruksikan utopia tersebut yang hanyalah suatu proyeksi dari hati manusia yang berdosa: entah itu populisme, komunisme, nazisme, fasisme, radikalisme menuju negara agama, dan berbagai janji-janji emas tentang Indonesia – itu semua hanyalah suatu fantasi ideologis dari keinginan hati manusia.
Untuk membawa kesejahteraan ke Kota Dunia, umat Kristiani perlu mempelajari nilai-nilai kemanusiaan yang masih menjadi anugerah umum. Lalu, kita melakukan interpretasi ulang terhadap anugerah umum tersebut dengan lensa interpretatif anugerah khusus, yaitu kisah Injil dalam Alkitab. Sebagai suatu contoh, ketika sistem kekuasaan Jawa mencoba untuk melakukan sentralisasi kekuasaan, Alkitab justru mengajarkan yang sebaliknya. Posisi raja-imam-nabi harus dipisahkan satu sama lain layaknya sistem trias politica. Kecuali Tuhan Yesus yang berdaulat penuh tanpa dosa yang bisa menjabat sebagai raja-imam-nabi, maka tidak ada manusia lain yang mampu dan berhak mengambil seluruh bidak catur kekuasaan.
Contoh yang lain, ketika ratu adil mencoba untuk menjadi sosok mesianik yang kharismatik untuk mewakili bangsa dan menggantikan kuasa negara. Raja Jawa maupun ratu adil yang adalah manusia berdosa ingin naik dan mempertahankan kekuasaan. Sekali naik, mereka tidak ingin turun. Manusia, dalam keberdosaannya, ingin menjadi allah – atau menggantikannya dengan menduduki takhta kekuasaan di tengah dunia. Sebaliknya, Tuhan Yesus yang adalah raja di atas segala raja, menjadi manusia dan mati baginya. Allah dan Sang Raja satu-satunya justru turun, melepaskan kekuasaan, dan menyerahkan diri-Nya untuk penebusan dosa.
Apabila kita ingin memahami bagaimana sistem kekuasaan yang sejati bekerja, maka kita perlu belajar dari cara kerja Allah dalam menghadapi kekuasaan yang berlaku dalam dunia. Api tidak dapat menghanyutkan api. Melawan kuasa kegelapan dengan kuasa yang serupa hanya akan menambah masalah. Cara Allah bekerja untuk menghadapi kekuasaan adalah dengan melepaskannya. Langkah untuk mengkritik logika Kota Dunia dengan bahasa yang digunakannya sendiri melalui narasi Injil.
[6]
Dengan mengacu kepada karya T.B Simatupang, Iman Kristen dan Pancasila, saya ingin mengajukan suatu kutipan yang mungkin perlu kita pikirkan bersama:
“Gereja menjalankan tugasnya dalam negara kita yang akan menjalankan pemilihan umumnya yang kedua dengan menyerukan agar baik Pemerintah dan alat-alatnya, maupun golongan-golongan yang mengambil bagian dalam pemilihan umum itu, dan masyarakat umumnya menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing dengan rasa tanggung jawab yang sepenuh-penuhnya terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia.
Gereja bukan Negara. Gereja bukan partai politik. Gereja bukan golongan karya. Gereja bukan kekuasaan politik. Gereja adalah gereja. Sebagai gereja dia mendampingi, melayani, membimbing manusia sebagai individu dan sebagai kelompok agar dia sanggup dan mampu menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warganegara yang melalui apa yang dijalankan atau tidak dijalankannya dalam pemilihan umum itu turut bertanggung jawab terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusianya mengenai kesejahteraan umum dalam negara Pancasila kita yang sedang membangun ini.”
Kutipan dari T.B Simatupang menjelaskan bahwa posisi gereja mempunyai otonomi yang bersifat independen. Gereja bukanlah aparatur negara maupun suatu partai representasi dari kelompok kerakyatan, gereja juga bukan alat bisnis para konglomerat ataupun suatu perangkat politik. Kemiripan gereja dengan suatu institusi sipil yang bersifat non-profit memang membuatnya terkesan defensive atau pacifist di tengah arena kekuasaan. Akan tetapi, gereja juga mampu mengambil posisi yang kritis dan ofensif dalam menyuarakan suara kenabian di tengah negara-bangsa. Tuhan mengutus Yesaya untuk menegur umat-Nya sendiri, dan juga mengutus Yunus untuk menegur bangsa Asyur di Ibukota Niniwe. Demikian juga, kiranya umat Kristiani dimampukan untuk mengambil peran untuk menyuarakan prinsip firman Allah, melalui interpretasi terhadap Pancasila, untuk mengingatkan para pemimpin dan rakyat untuk kembali kepada nurani kebangsaan yang semestinya.
Kevin Nobel Kurniawan
Pemuda GRII Pusat
[1] https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/kegelapan-di-balik-janji-emas-tanggapan-calvin-dan-kuyper-terhadap-kekuasaan-jawa
[2] “Machiavellian” berasal dari pemikiran Machiavelli, The Prince, yang mengungkapkan bahwa seorang penguasa harus memakai setiap sarana, baik maupun jahat, untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
[3] Matrix adalah sebuah film yang diluncurkan pada tahun 1999 yang menceritakan tentang kehidupan manusia yang terjebak dalam suatu dunia mimpi atau dunia simulasi yang dikelola oleh AI. Film ini meminjam ide dari alegori Plato yang menjelaskan adanya manusia yang terjebak dalam suatu realitas semi, memandang pada bayang-bayang dalam goa, sampai suatu saat dia bebas, memandang matahari, dan tercelikan dari dunia bayangan.
[4] https://www.buletinpillar.org/isu-terkini/kegelapan-di-ujung-kekuasaan
