Jika manusia dikategorikan ke dalam dua kelompok besar, maka akan terbentuk dua kubu yang kontras: kelompok yang merasa diri paling berdosa—seperti si bungsu yang terhilang oleh kesalahannya sendiri, dan kelompok yang merasa paling suci—seperti si sulung, yang yakin dirinya paling setia, paling layak mendapat pengakuan.
Dalam Lukas 15:11-32, Yesus menggambarkan kedua kelompok ini melalui perumpamaan yang sangat mengejutkan bagi pendengar dan pembaca mula-mula. Perumpamaan yang, jika direnungkan, bukan hanya tentang anak yang hilang, tetapi juga tentang kita.
Perumpamaan yang Yesus sampaikan dimulai dengan permintaan si bungsu yang sungguh keterlaluan, “Berikan bagian harta yang menjadi hakku.” Di budaya saat itu, ini seperti berkata, “Ayah, aku lebih suka ayah mati daripada hidup.” Perkataan ini sangat kasar dan sangat tidak sopan jika diucapkan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Namun, sangat mengejutkan karena respons sang ayah sangat berbeda. Sang ayah tidak marah, namun dia justru mengabulkan permintaan aneh itu. Timothy Keller waktu membahas bagian ini, dia menuliskan, “Pada dasarnya, si bungsu ingin mengatakan bahwa ia menginginkan harta sang ayah, tetapi tidak menginginkan sang ayah.”[1] Gambaran ini adalah gambaran yang sangat akrab dengan kita. Kenapa? Karena itu adalah gambaran kita. Ya, kita! Kita sering seperti itu. Mengejar berkat Tuhan, tetapi melupakan Sang Pemberi berkat. Mengejar mujizat, tetapi tidak mau mengenal Sang Sumber mujizat.
Cerita perumpamaan dilanjutkan dengan si bungsu yang telah mendapatkan harta dari sang ayah lalu pergi ke negeri yang jauh, menghamburkan semua harta itu hingga jatuh miskin. Si bungsu kemudian jatuh dalam kehancuran menjaga babi yang merupakan pekerjaan yang paling hina bagi orang Yahudi. Terkadang Tuhan membiarkan kita “jatuh” dahulu baru kita sadar bahwa tanpa Dia, kita benar-benar tak berdaya. Menjauh dari Dia, hanya membuat seseorang berhadapan dengan kebuntuan belaka.
Di titik yang paling rendah inilah si bungsu mulai membangun rencana untuk pulang. Si bungsu telah memiliki banyak rencana di kepalanya untuk dijalankan ketika bertemu dengan ayahnya. Namun, ketika dia tiba di rumah sang ayah, semua rencana tersebut gagal karena sang ayah terlebih dahulu menghampiri dia. Kalau dipikir-pikir, begitulah cara Allah bekerja ketika berhadapan dengan orang-orang berdosa seperti kita. Kita sering berpikir, kita yang memiliki inisiatif untuk datang menghadap Allah, namun sebenarnya tidak ada satu pun manusia berdosa yang dapat datang mencari Allah. Yang berinisiatif datang mencari kita adalah Allah. Allah tidak menunggu kita sempurna tanpa cacat untuk dikasihi karena Dia yang akan berlari menyambut kita di dalam keadaan kita yang paling buruk.
Sementara si bungsu pulang dalam penyesalan dan kehancuran hati, si sulung justru marah dan menolak masuk ke dalam rumah. Ia merasa lebih layak, lebih taat, dan lebih pantas dihormati dibanding adiknya yang telah menghamburkan harta warisan. Namun, justru di sinilah ironi besar terjadi: si sulung, yang tidak pernah pergi dari rumah, ternyata juga terhilang—karena hatinya jauh dari sang ayah. Ia tidak mengerti kasih karunia, karena terjebak dalam perasaan layak. Sebaliknya, si bungsu, yang datang dengan hati hancur dan penuh kesadaran akan ketidaklayakannya, justru mengalami pelukan kasih sang ayah.
Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa penerimaan Allah bukanlah upah atas kebaikan, melainkan anugerah bagi mereka yang sadar akan keberdosaannya dan datang dengan hati yang hancur. Kiranya kita terus belajar merendahkan diri di hadapan-Nya, agar kita tidak tersesat dalam keangkuhan rohani, tetapi mengalami sukacita karena kasih yang memulihkan. Amin.
Veronika Santi Ayu Tarigan
Mahasiswa STTRII Konsentrasi Misiologi
[1]Timothy Keller, Allah yang Maha Pemurah,(Surabaya: Momentum, 2014), 13-14.
