Kita baru saja merayakan Natal, memperingati hari kelahiran Kristus Sang Juruselamat, Allah yang mengambil tubuh sebagai manusia. Juruselamat yang kelahiran-Nya justru tampak aneh dan tidak layak disebut sebagai Juruselamat: lahir sebagai bayi yang lemah, di tempat yang jauh dari kata layak, bergantung pada orang-orang di sekitarnya. Namun inilah Dia, Kristus, Sang Raja, Sang Juruselamat.
Setelah kelahiran-Nya, Alkitab tidak banyak mencatat mengenai masa kanak-kanak Kristus. Hal ini tentu tidak dapat diartikan bahwa kehidupan Kristus hanya berkisar pada kelahiran dan kematian-Nya di atas kayu salib. Injil Lukas mencatat bahwa pada usia dua belas tahun, Yesus berada di Bait Allah. Ia mendengarkan, bertanya, dan bertumbuh dalam hikmat (Luk. 2:41–52). Pertumbuhan menandakan proses, menandakan waktu. Ini berarti Kristus juga melewati periode kanak-kanak, seperti kita.
Inkarnasi adalah pengambilan natur manusia secara penuh dan seutuhnya. Untuk menebus manusia yang berdosa, Kristus harus menjadi manusia, memiliki tubuh, pikiran, serta menjalani proses kehidupan manusia. Masa kanak-kanak Kristus bukan catatan yang boleh ada atau tidak ada; Ia merupakan bagian dari kisah penebusan itu sendiri.
Refleksi tentang masa kanak-kanak Kristus ini divisualisasikan melalui lukisan karya Raphael berjudul The Virgin and Child with Saint John the Baptist, yang dilukis ketika Raphael baru menginjak usia dua puluh tahun.
Melawan Budaya “Serba Instan”
Kita sangat terbiasa dengan keberhasilan yang cepat, pencapaian yang segera, hasil yang instan. Proses yang panjang dirasa membosankan. Namun, Juruselamat kita justru berjalan ke arah yang berlawanan. Setelah kelahiran-Nya, tidak ada catatan mukjizat selama puluhan tahun. Tidak ada pelayanan yang ditunjukkan kepada publik. Tidak ada demonstrasi kuasa ilahi. Yang ada adalah tahun-tahun yang sunyi dan panjang: bertumbuh, belajar, taat, dan menjalani kehidupan sebagai manusia.
Raphael, dalam lukisannya, tidak menggambarkan Kristus dalam pose heroik atau penuh kuasa, melainkan melalui gestur khas anak kecil: berinteraksi dengan anak lain, Yohanes Pembaptis. Ia berada dekat dengan pangkuan ibu-Nya, seolah sedang belajar berjalan. Keilahian-Nya tidak menghapus kemanusiaan-Nya, dan kemanusiaan-Nya bukan sekadar tahap yang kebetulan ada.
Dalam lukisan ini juga tidak digambarkan cahaya menyilaukan yang sering diasosiasikan dengan surga. Tidak ada malaikat yang memenuhi langit, tidak ada kontras ekstrem antara bumi dan surga. Raphael menghadirkan suasana yang tenang dan membumi, seolah ingin menegaskan bahwa inkarnasi adalah kehadiran Allah di dalam kehidupan yang biasa.
Hal ini menantang cara kita memandang keselamatan. Keselamatan tidak cukup hanya dengan Kristus lahir dan mati di kayu salib. Kita berdosa di dalam tubuh; Allah itu kudus dan tidak bertubuh. Maka, untuk menyelamatkan manusia, diperlukan Pribadi yang sungguh memiliki tubuh manusia, namun tanpa dosa. Bagian ini tidak dilewatkan oleh Kristus. Ia tidak melompat secara instan dari palungan ke salib, melainkan menjalani hidup manusia sepenuhnya.
Lukisan Raphael ini bukan tentang momen Natal, juga bukan tentang momen Jumat Agung. Lukisan ini menggambarkan sebuah periode dalam kehidupan Sang Juruselamat yang, meskipun kecil dan jarang dicatat, sungguh Ia jalani.
Mengingat Inkarnasi dengan Lebih Utuh
Lukisan ini mengingatkan bahwa inkarnasi oknum kedua dari Allah Tritunggal menjadi manusia tidaklah hanya sesaat, tetapi Ia menjalani kemanusiaan itu sepenuhnya. Ia mengalami pertumbuhan fisik, keterbatasan, kelelahan, dan saat-saat ketergantungan pada orang-orang di sekitar-Nya. Allah bekerja bukan hanya melalui momen dramatis, tetapi juga melalui proses yang setia dan dijalani di dalam waktu. Kristus hadir di dalam waktu, bukan melewati atau menghindarinya.
Salah satu hal yang terlihat dalam lukisan Raphael ini adalah keseimbangan komposisi segitiga antara Maria, Kristus, dan Yohanes Pembaptis. Komposisi seperti ini berkembang kuat pada masa High Renaissance, periode penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan humanisme, masa yang sering diasosiasikan dengan upaya mencapai keteraturan visual. Raphael, yang hidup sezaman dengan Leonardo da Vinci dan Michelangelo, menyerap bahasa visual zamannya, termasuk penggunaan struktur geometris untuk mengekspresikan makna yang lebih dalam tanpa harus bersifat dramatis.
Maria menjadi figur yang menopang struktur lukisan, tetapi pusat perhatian tetap ada pada Kristus. Bahkan dalam wujud kanak-kanak, Ia tetap menjadi pusat sejarah keselamatan. Hal ini tidak dinyatakan melalui dominasi, melainkan melalui kehadiran. Ini sejalan dengan kehidupan Kristus yang sering kita lupakan: selama bertahun-tahun, bahkan sejak awal, Ia adalah pusat rencana Allah, meskipun hidup-Nya pada waktu-waktu tertentu tampak biasa dan Ia merasakan kelemahan tubuh seperti yang juga kita rasakan.
Maria dilukiskan mengenakan kain berwarna merah dan biru yang kontras. Merah melambangkan kemanusiaan, kasih, dan penderitaan; biru melambangkan surga yang tidak dapat dijangkau manusia. Kedua warna ini hadir bersamaan, bukan saling meniadakan. Lukisan ini secara visual menyatakan bahwa perjumpaan antara surga dan bumi terjadi di dalam sejarah manusia yang nyata, di dalam tubuh dan waktu.
Inkarnasi Tanpa Jalan Pintas
Melalui lukisan ini, Raphael mengajak kita berhenti sejenak dan melihat kembali inkarnasi dengan lebih jujur. Kristus tidak hanya lahir dan mati; Ia sungguh hidup sebagai manusia. Ia bertumbuh di dalam waktu, mengalami keterbatasan tubuh, dan menjalani masa kanak-kanak yang sering tidak kita anggap ada. Namun, justru di sanalah Allah bekerja, bukan hanya dalam momen-momen besar yang kita rayakan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari yang sunyi dan setia, tempat penebusan dijalani dari dalam kemanusiaan itu sendiri.
Sharon Nobel
Pemudi GRII Pusat
