The Doctrine of Revelation (9): Van Til’s View on Revelation (Revelation about Nature from Nature)

Di dalam sebuah worldview, setidaknya ada tiga topik utama yang pasti akan dibahas di dalamnya, yaitu cara pandang mengenai Allah, manusia, dan alam atau dunia ini. Ketiga topik ini dianggap sebagai tiga klasifikasi yang melingkupi segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Konsep yang kita bangun terkait dengan tiga topik ini, bagaimana kaitan satu dengan lainnya, menentukan karakter dari worldview kita, termasuk pandangan kita mengenai agama, ilmu pengetahuan, dan moralitas atau etika. Namun kita sering kali menjumpai adanya cara pandang di dunia ini yang memisah-misahkan ketiga topik ini, sebagai topik yang seolah-olah tidak berkaitan satu dengan lainnya. Misalnya, ketika mempelajari ilmu pengetahuan, terutama ilmu eksakta, ada kelompok yang memisahkan ilmu pengetahuan ini dengan hal-hal yang berkaitan dengan Allah. Mereka menganggap bahwa ilmu pengetahuan alam tidak berkaitan sama sekali dengan Allah. Ilmu ini hanya mempelajari mengenai bagaimana alam atau dunia ini bekerja. Jikalau di dalam ilmu mereka membahas atau bersinggungan dengan Allah, mereka merasa seolah-olah mereka sudah tidak setia dengan prinsip ilmu pengetahuan alam, seolah-olah ilmu yang mereka pelajari menjadi ilmu yang tidak lagi valid atau layak dianggap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam. Di sisi lain, mereka pun menganggap ilmu yang berkaitan dengan Allah hanyalah ilmu seperti theologi, seolah-olah theologi sama sekali tidak boleh bersinggungan dengan hal yang di luar dari topik mengenai Allah. Kalaupun ada aspek-aspek dari theologi yang membahas mengenai alam, pemikiran ini dianggap hanya sebagai sebuah kepercayaan personal yang tidak boleh dibawa ke ranah publik seperti ketika membahas ilmu pengetahuan alam.

Dualism of Life and Conscience

Dengan adanya cara pandang seperti ini, maka tidak heran jikalau atheisme begitu senang untuk memanfaatkan hasil penelitian para ilmuwan untuk menjadi dasar atau pendukung teori atau kepercayaan mereka. Begitu juga sebaliknya, banyak ilmu pengetahuan yang dibangun di atas dasar asumsi-asumsi atheisme. Oleh karena itu, tidak mengherankan jikalau pembelajaran ilmu pengetahuan saat ini sering kali diarahkan kepada pemikiran atheisme atau setidaknya ke dalam pemikiran deisme yang memisahkan Allah dari dunia ini. Implikasi lain dari pembelajaran ilmu pengetahuan sekarang adalah cara hidup yang dualis. Di dalam kehidupan rohani, kita menggunakan standar kebenaran yang dinyatakan Alkitab, sedangkan di dalam kehidupan yang berkaitan dengan jasmani, kita menggunakan standar yang dikatakan oleh ilmu pengetahuan yang memiliki asumsi-asumsi atheisme. Maka kehidupan kita menjadi seorang yang mengabdi kepada dua tuan, yaitu mengabdi kepada Allah dan juga mengabdi kepada atheisme. Inilah kehidupan yang dijalani oleh manusia, atau bahkan banyak orang Kristen yang tidak mau mempelajari firman Tuhan dengan baik.

Di dalam kaitan dengan hal ini, Herman Bavinck menyatakan demikian:

But such dualism is impossible. God does not stand apart from the world, much less from humanity, and therefore the knowledge of Him is not the peculiar domain of theology. It is true: theology especially occupies itself with His revelation, in order that its nature and contents may be scientifically understood so far as possible. But this revelation addresses itself to all humanity; the religion founded on it is the concern of every human, even the man of science and the investigator of nature, for all men, without exception, the knowledge of God is the way of eternal life. Moreover, the man who devotes himself to science cannot split himself into halves and separate his faith from his knowledge; even in his scientific investigations he remains human—not a purely intellectual being (verstandwezen) but a man with a heart, with affections and emotions, with feeling and will. ‘Not only humankind, but also every individual, finds, as he grows to full consciousness, a view of the world already prepared for him, to the formation of which lie has not consciously contributed.’ And the demand which truth and morality make on him is not and cannot be, that he shall denude himself of himself, but that he shall be a man of God, furnished completely unto every good work. The thinkers and philosopher, as well as the common citizen and the day laborer, have to serve and glorify God in their work.[1]

Bagi Bavinck, cara hidup dualis adalah cara hidup yang tidak mungkin dijalani oleh manusia di dalam dunia ini. Karena setiap manusia, apa pun yang menjadi profesinya, harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Seorang ilmuwan tidak mungkin terlepas dari tanggung jawabnya kepada Allah. Ia tetap seorang manusia yang memiliki hati nurani yang juga berfungsi untuk menyatakan keberadaan Allah dari dalam dirinya. Ia juga seorang manusia yang secara natural menyadari adanya suatu dorongan dari dalam diri yang menyadari keberadaan Allah dan adanya keinginan untuk menyembah-Nya. Sehingga tidak ada satu manusia pun yang dapat terhindar dari tuntutan hati nurani untuk bertanggung jawab kepada Allah.

God the Trinity as the True Foundation of Science

Di sisi yang lain, kita pun bisa melihat ketidakmungkinan ilmu pengetahuan untuk berkembang tanpa adanya kaitan dengan Allah. Van Til menyatakan sebagai berikut:

When we study physics, we do not usually think of the fact that we are dealing with revelation. We study the individual objects in the physical universe. We try to see in accordance with what laws they work. We try to bring the particulars and the universals together. We deal, therefore, first of all with the object-object relation. But we also deal with the object-subject or the subject-object relation. it is the human mind or subject that seeks to get information about the objects of knowledge. We hold that God has so created the objects in relationship to one another that they exist not as particulars only, but as particulars that are related to universals. God has created not only the facts but also the law of physical existence. And the two are meaningless except as correlatives of one another. Moreover, God has adapted the objects to the subjects of knowledge; that the laws of our minds and the laws of the facts come into fruitful contact with one another is due to God’s creative work and to God’s providence, by which all things are maintained in their existence and in the operation in relation to one another.[2]

Dari kutipan di atas, kita bisa melihat beberapa hal yang Van Til kaitkan dalam menjelaskan relasi antara alam dan wahyu Allah:

  1. Seluruh ciptaan bersumber hanya dari satu pribadi, yaitu Allah Tritunggal. Setiap keberadaan dari ciptaan mencerminkan kemuliaan dan aspek-aspek mengenai Allah. Yang dimaksud dengan cerminan ini bukanlah “serpihan Ilahi” seperti yang dimengerti oleh pantheisme, tetapi merupakan refleksi atau jejak kemuliaan Allah yang terdapat di dalam setiap ciptaan, bagaikan seorang seniman yang memiliki jejak atau karakteristik di dalam setiap hasil karyanya.
  • Seluruh ciptaan yang berasal dari Allah Tritunggal memungkinkan adanya relasi antar ciptaan. Sebagaimana Allah Tritunggal yang saling berelasi antar pribadi, maka setiap ciptaan di dalam alam semesta ini dapat saling berelasi atau terkait satu dengan lainnya. Hal ini merupakan dasar atau fondasi yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan. Keterkaitan atau hubungan antara partikel di dalam alam adalah aspek yang menjadi bahan dari penelitian ilmu pengetahuan. Jikalau tidak ada kaitan antar partikel di dalam, tidak mungkin terdapat hukum alam yang bersifat universal dan menaungi partikel-partikel yang ada. Maka hanya di dalam fondasi prinsip unity in diversity, yang merupakan cerminan dari Allah Tritunggal, segala usaha penelitian ilmu pengetahuan dapat berbuah.
  • Bukan hanya keterkaitan antar partikel di dalam alam, tetapi juga keterkaitan antara alam dan manusia. Manusia adalah keberadaan yang Tuhan jadikan sebagai mahkota ciptaan yang berperan dalam mengelola alam semesta. Maka jikalau tidak ada keterkaitan antara manusia dan alam, ilmu pengetahuan pun tidak mungkin dapat membuahkan hasil. Maka di sini kita dapat mengerti bahwa kekristenan percaya Allah tidak hanya menciptakan fakta-fakta yang ada di dalam alam semesta ini, tetapi Ia juga menciptakan seluruh hukum alam yang ada di dalamnya, sehingga antar hukum alam pun terdapat keterkaitan satu dengan lainnya. Tanpa adanya keterkaitan ini, segala sesuatunya akan menjadi tidak berarti.
  • Seluruh aspek di dalam ciptaan mulai dari fakta-fakta yang bersifat partikular, hubungan antara fakta tersebut, keberadaan hukum alam sebagai prinsip yang bersifat lebih universal, keterkaitan antar hukum alam, lalu keterkaitan antara alam dan manusia, semuanya ini ada karena Allah yang menciptakan dengan kreativitas-Nya. Bukan hanya Allah yang menciptakan, tetapi Ia juga yang memelihara segala keberadaan ini untuk tetap berada secara konsisten dari waktu ke waktu. Aspek lain yang penting dari ilmu pengetahuan adalah konsistensi dari hukum alam. Tanpa adanya konsistensi tersebut, tidak mungkin ilmu pengetahuan itu memiliki makna, karena prinsip yang berlaku saat ini tidak tentu berlaku di hari-hari berikutnya. Maka keteraturan dan konsistensi adalah hal yang harus ada di dalam alam semesta ini. Kita percaya bahwa Allah yang terus campur tangan melalui pemeliharaan-Nya yang menjamin hal ini. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa ilmu pengetahuan bisa bermakna karena Allah yang memeliharanya.

Seluruh ciptaan yang berasal dari Allah Tritunggal memungkinkan adanya relasi antar ciptaan. Sebagaimana Allah Tritunggal yang saling berelasi antar pribadi, maka setiap ciptaan di dalam alam semesta ini dapat saling berelasi atau terkait satu dengan lainnya.

Trinity as the Foundation for Scientific Method

Dengan adanya fondasi pengertian Allah Tritunggal sebagai pribadi sekaligus prinsip yang mendasari alam semesta, maka pendekatan di dalam penelitian ilmu pengetahuan pun harus dibangun di atas fondasi tersebut. Berkaitan dengan hal ini, Van Til menyatakan demikian:

It is customary on the part of some orthodox theologians to depreciate the objects of sensation as a source of knowledge. They have become deeply convinced of the skepticism involved in historical empiricism. They would therefore substitute an a priori approach for that of the empiricist, thinking that thus they represent biblical thought.

Two points may be mentioned with respect to this. In the first place, to flee to the arms of apriorism from those of empiricism is in itself no help at all. It is only if an a priori is self-consciously based upon the conception of the ontological Trinity rather than upon the work of Plato or some other non-Christian philosopher that it can safeguard against skepticism. The a priori of any non-Christian thinker will eventually lead to empiricism. It can keep from doing so only if it keeps within the field of purely formal predication. In the second place, if we do place the ontological Trinity as the foundation of all our predication, then there is no need to fear any skepticism through the avenue of sense. Sensation does ‘deceive us’, but so does ratiocination. We have the means for their corruption in both cases. The one without the other is meaningless. Both give us true knowledge on the right presupposition; both lead to skepticism on the wrong presupposition.[3]

Terkait dengan metodologi di dalam melakukan penelitian, bagi Van Til, kedua metodologi yang ada sama-sama bisa digunakan selama menggunakan presuposisi yang tepat. Baik a priori maupun a posteriori, kedua metodologi ini sama-sama diperlukan dalam penelitian ilmu pengetahuan. Namun, jika presuposisi yang digunakan salah, maka kita akan mengarah kepada pengertian yang salah, bahkan pengertian yang tidak bermakna. Satu-satunya yang dapat menjadikan metodologi ini membuahkan hasil yang bermakna adalah dengan mempresuposisikan Allah Tritunggal. Seperti yang sudah dibahas di atas, bahwa tanpa adanya presuposisi Allah Tritunggal, maka kita tidak dapat melihat adanya keterkaitan antara fakta dan hukum alam. Tanpa adanya relasi ini, ilmu pengetahuan menjadi tidak bermakna. Tanpa bersandar kepada wahyu Allah, manusia tidak dapat memperoleh pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan. Oleh karena itu, di dalam perkembangan ilmu pengetahuan pun, wahyu Allah sangatlah krusial.

Simon Lukmana Pemuda FIRES


[1] Herman Bavinck, Philosophy of Revelation, (Peabody: Massachusetts).

[2] Cornelius Van Til, Introduction to Systematic Theology, (Phillipsburg: New Jersey).

[3] Ibid.