Doa adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan sekaligus juga adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan; ini adalah paradoks di dalam doa. Kita boleh dengan begitu mudahnya berkomunikasi dengan Allah Sang Pencipta kita yaitu hanya melalui doa, tetapi di sisi yang lain justru kita juga sangat sulit untuk berdoa. Sekalipun kita berdoa, tetapi doa kita itu sering kali hambar dan hanya sebagai rutinitas saja.
Setiap kali kita berdoa, doa kita begitu dingin, kita ingin untuk cepat-cepat mengakhirinya. Kita telah terbiasa dengan sikap hati seperti ini, dan anehnya kita menganggap bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah hal yang biasa dan kita tidak merasa bahwa ada sesuatu yang salah pada diri kita, padahal sebenarnya kita sedang “take it for granted”akan Allah.
Saya teringat ketika sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan (yang sekarang sudah menjadi istri saya). Pada masa itu ketika kami berpacaran, setiap hari ada suatu kerinduan yang sangat dalam untuk berjumpa dengannya. Pada saat dekat dengannya dan bisa berbagi cerita dengannya, perasaan hati seperti sedang berbunga-bunga dan tidak ingin untuk berpisah. Ketika tiba saatnya kami harus mengakhiri pertemuan itu, sangat sulit sekali untuk mengakhirinya. Saya harus pulang tetapi masih tetap ingin untuk bersama-sama dengannya, ada suatu kerinduan untuk selalu dekat dengannya.
Demikianlah seharusnya perasaan kita ketika berdoa kepada Tuhan: kita yang mengasihi Tuhan pasti rindu untuk selalu dekat dengan Tuhan. Sehingga pada saat kita berdoa, ada suatu ungkapan doa yang sungguh-sungguh dari ketulusan hati yang terdalam untuk datang kepada Tuhan. Tetapi kita jangan lupa bahwa kita adalah orang berdosa yang sebenarnya tidak layak di hadapan Tuhan. Bahkan di dalam keberdosaan kita, kita tidak memiliki keinginan untuk datang kepada Tuhan. Natur kita yang berdosa inilah yang membuat kita sulit untuk berdoa. Kita bisa betah berlama-lama berkomunikasi dengan orang yang kita cintai di dalam dunia ini, tetapi anehnya, ketika kita berkomunikasi dengan Tuhan di dalam doa, kita begitu dingin dan ingin cepat-cepat untuk menyelesaikannya.
Kita harus jujur di hadapan Allah bahwa kita memang kurang mencintai Allah. Fokus, keinginan, dan tujuan hidup kita bukanlah Allah tetapi diri kita. Hati kita telah tercemar oleh dosa sehingga kita tidak mampu mengasihi Allah dengan benar. Tanpa pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita, kita tidak mungkin bisa datang kepada Allah; itulah mengapa Allah Roh Kudus diberikan bagi kita. Roh Kuduslah yang telah melahirbarukan kita, yang membuat kita bisa beriman kepada Kristus, dan yang memimpin hidup kita untuk makin serupa dengan Kristus.
Di dalam suratnya, Rasul Paulus mengatakan, “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’” (Gal. 4:6).
Sebagai orang percaya kepada Kristus, seperti yang diungkapkan oleh Rasul Paulus di dalam surat Galatia 4:6, kita telah menerima Roh Kudus di dalam hati kita. Roh inilah yang memampukan kita untuk memandang Allah sebagai Bapa kita di dalam doa kita. Dan janganlah kita mendukakan Roh Kudus dengan kembali kepada cara hidup kita yang lama, yaitu hidup di dalam dosa-dosa kita. Mari kita kembali kepada Allah, meminta pertolongan Allah Roh Kudus untuk memurnikan hati kita sehingga kita boleh memiliki sikap hati yang benar ketika kita berdoa.
Inilah mengapa Allah memberikan Roh Kudus kepada kita, karena tanpa Roh Kudus, setiap doa-doa yang kita ucapkan begitu dingin dan hanya sebatas kata-kata bibir saja. Ketika berdoa di hadapan orang lain, kita mungkin adalah orang yang pandai menyusun kata-kata sedemikian rupa agar terlihat bahwa kita adalah orang yang baik dan rohaniwan, padahal di hadapan Tuhan, sebenarnya kita adalah orang yang munafik. Kita mungkin bisa menipu manusia, tetapi kita tidak mungkin bisa menipu Tuhan.
John Bunyan, seorang yang pernah dipenjarakan selama sekitar 12 tahun karena imannya kepada Tuhan Yesus mengatakan:
Doa adalah curahan hati atau jiwa yang tulus, bijaksana, dan penuh kasih kepada Allah, melalui Kristus, dengan kekuatan dan pertolongan Roh Kudus, untuk hal-hal yang telah dijanjikan oleh Tuhan atau sesuai dengan firman, demi kebaikan gereja, dengan kerendahan hati, dalam iman, kepada kehendak Allah. Hal-hal ini saling bergantung satu sama lain sehingga mustahil ada doa tanpa adanya keterlibatan bersama dari semuanya; sebab meskipun doa itu sangat terkenal, namun tanpa hal-hal ini, doa itu hanyalah doa yang ditolak oleh Allah. Sebab tanpa curahan hati yang tulus, masuk akal, dan penuh kasih kepada Allah, doa itu hanyalah omong kosong belaka; dan jika tidak melalui Kristus, doa itu jauh dari terdengar baik di telinga Allah. Demikian pula, jika tidak dengan kekuatan dan pertolongan Roh Kudus, doa itu hanyalah seperti anak-anak Harun yang mempersembahkan api yang asing (Im. 10:1-2), dan oleh karena itu, untuk saat ini, apa yang tidak dimohonkan melalui pengajaran dan pertolongan Roh Kudus, tidak mungkin hal itu “sesuai dengan kehendak Allah” (Rm. 8:27).[1]
Ketika kita berdoa, bukanlah kata-kata bibir kita yang diperhatikan Allah, tetapi yang dilihat Allah adalah ketulusan hati kita. Seperti kisah tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang berdoa kepada Allah, Allah lebih berkenan akan doa seorang pemungut cukai yang datang kepada-Nya dengan hancur hati, menyadari akan ketidaklayakannya dan memohon belas kasihan Tuhan kepadanya.
Kita berdoa dengan hati yang tulus, sadar, penuh kasih kepada Allah, dan jangan lupa bahwa hanya melalui Kristuslah kita bisa mendapat akses kepada Allah. Tanpa Kristus, tidak ada satu doa pun yang bisa sampai kepada Allah. Orang yang berdoa melalui Kristus juga harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan yang benar tentang Dia dan percaya kepada-Nya.
Kita yang beriman kepada Kristus, Roh Kudus telah mempersatukan kita dengan-Nya sehingga kita bisa datang kepada Allah sebagai anak-anak Allah. Allah tidak melihat kita sebagai seorang pendosa lagi tetapi sebagai seorang yang telah dibenarkan oleh karena Kristus.
Hanya dengan pertolongan Roh Kudus kita bisa datang kepada Allah melalui Kristus dalam doa kita, seperti yang diungkapkan oleh Rasul Paulus bahwa “Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh tersebut, yaitu bahwa Ia berdoa untuk orang-orang kudus, sesuai dengan kehendak Allah.”
Roh Kudus akan memurnikan hati kita untuk makin serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus; inilah tandanya bahwa kita adalah anak-anak Allah bahwa kita hidup sebagai anak-anak terang. Mari kita mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah yaitu firman Tuhan, supaya kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Di dalam segala doa dan permohonan, marilah kita senantiasa berdoa di dalam Roh dan berjaga-jaga di dalam doa kita. Ketika kita berdoa di dalam Roh, bukan berarti bahwa kita tidak berdoa menggunakan akal budi kita. Mengenai hal ini Rasul Paulus mengatakan, “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku” (1Kor. 14:15).
Roh Kudus akan menerangi akal budi kita, akan membawa kita kepada pengenalan yang benar akan firman Allah sehingga ketika kita berdoa, doa-doa yang kita naikkan kepada Allah dapat dipanjatkan dengan benar, yang sesuai dengan kehendak-Nya, untuk kemuliaan nama-Nya. Kita berdoa bukan untuk memuaskan keinginan hawa nafsu kita. Kita berdoa agar kehendak Tuhan saja yang terjadi di bumi seperti di sorga.
Akhirnya Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan, mari kita tidak meninggalkan kehidupan doa kita tiap-tiap hari—bukan hanya berdoa pada saat mau makan, mungkin kita juga berdoa sebelum tidur dan setelah bangun dari tidur, atau ketika sedang dalam kesulitan baru kita berdoa. Jikalau semua doa-doa yang kita panjatkan kepada Tuhan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, bukankah Tuhan sudah memberikan lebih dari apa yang sebenarnya kita butuhkan?
Sebagai anak-anak Allah, mari kita belajar berdoa sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, tidak hanya berdoa untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi mari kita mendoakan yang lain, mendoakan hamba-hamba Tuhan, mendoakan jiwa-jiwa yang sedang terhilang, mereka yang sedang hidup dikuasai oleh dosa, mendoakan pekerjaan Tuhan, dan masih banyak lagi yang bisa kita doakan.
Berdoa memang mudah untuk dilakukan, kita hanya perlu masuk ke dalam kamar lalu berlutut untuk berdoa, tetapi dengan natur kita yang berdosa, berdoa juga adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan; kedagingan dan kemalasan kita akan menarik kita untuk tidak berdoa. Mari kita meminta pertolongan Allah Roh Kudus untuk memampukan kita berdoa dengan benar. Ketika kita datang dengan rendah hati kepada Allah tiap-tiap hari, maka hidup kita juga akan makin disucikan oleh Tuhan. Kiranya Allah Roh Kudus memampukan kita untuk tetap tekun menjalani kehidupan doa kita.
Kalepta Brema Ginting
Mahasiswa STTRII
[1] John Bunyan, Prayer (Pensacola, FL: Chapel Library, 2022), 9, 15.
