1 Korintus 13
Menegur adalah hal yang sering kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya di dalam berelasi. Namun, di dalam memberikan teguran, kita sering dihadapkan pada hal yang tidak kita harapkan. Teguran yang kita anggap baik justru berujung pada reaksi negatif, seperti kemarahan, tangisan, atau bahkan menimbulkan rasa kepahitan di pihak yang ditegur.
Di sisi lain, saat kita ditegur, kita pun tak jarang merasa kehilangan rasa respek atau bahkan menimbulkan kepahitan terhadap orang yang menegur. Kondisi seperti inilah yang menunjukkan kita dan orang di sekitar kita sering kali salah atau bahkan keliru dalam cara menegur.
Belajar dari Teladan Kasih Paulus
Melihat tantangan ini, maka saya mengajak kita untuk belajar dari Rasul Paulus. Rasul Paulus menegaskan bahwa landasan utama dalam setiap interaksi termasuk dalam menegur adalah kasih. Rasul Paulus mendefinisikan kasih sebagai hal yang penting dalam beberapa aspek yaitu: murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Dalam konteksnya, Rasul Paulus menyatakan hal tentang kasih terhadap jemaat di Korintus agar mereka kembali kepada kehendak Allah. Saat itu, jemaat Korintus cenderung membanggakan karunia yang mereka miliki dan bahkan menganggap karunia yang mereka miliki lebih penting daripada apa yang sesamanya miliki. Oleh karena itu, saya akan mengangkat tiga hal yang akan menjadi dasar kasih di dalam menegur yang dapat kita terapkan.
Teguran dengan kemurahan hati
Di tengah-tengah permasalahan yang ada di jemaat Korintus, Paulus tetap menerapkan kasih di dalam menegur mereka dan menjelaskan bagaimana seharusnya hidup di dalam karunia yang kita miliki. Kita dapat melihat keluasan hati Rasul Paulus yang menegaskan dirinya terlebih dahulu dengan mengatakan sekalipun dia mempunyai segala sesuatu, jika tidak mempunyai kasih maka hal itu tidak berguna. Mempunyai kemurahan hati di dalam menegur seseorang berarti mengajarkan kita terlebih dahulu mengetahui posisi orang tersebut dengan segala keluasan hati. Kita perlu melihat apa yang dibutuhkan oleh seseorang di tengah-tengah segala kesalahan dan permasalahan yang dialami tanpa ingin menjatuhkan orang tersebut. Terkadang tanpa kita sadari, kita cenderung mengatakan apa yang kita anggap “paling benar” bagi mereka yang melakukan kesalahan atau belum bertobat, tanpa kemurahan hati untuk mendengarkan dan memahami kondisi mereka.
Dengan demikian, kita harus belajar bahwa menegur berarti menerima seseorang apa adanya dengan ketulusan hati kita dengan tujuan membuatnya bertumbuh dan bukan terjatuh.
Mempunyai kemurahan hati di dalam menegur seseorang berarti mengajarkan kita terlebih dahulu mengetahui posisi orang tersebut dengan segala keluasan hati. Kita perlu melihat apa yang dibutuhkan oleh seseorang di tengah-tengah segala kesalahan dan permasalahan yang dialami tanpa ingin menjatuhkan orang tersebut.
Menegur dengan tidak memegahkan diri
Berapa banyak dari kita yang menegur seseorang dengan membandingkan dia dengan kita atau bahkan orang yang lebih baik? Kita perlu memiliki kepekaan dalam berkata-kata kepada seseorang, sebab terkadang kita harus memikirkan hal yang selayaknya untuk diucapkan. Teguran tanpa adanya kemegahan atas diri membuat kita rendah hati. Rasul Paulus selalu menyatakan diri sebagai hamba, bahkan tidak memegahkan diri atas kerasulannya dan menyatakan diri sebagai pelayan. Kita di dalam menegur harusnya membawa seseorang memandang kepada Kristus dan bukan diri kita. Kenapa kita tidak boleh membawa kepada diri kita? Karena kita juga mempunyai kelemahan yang sama, bahkan mungkin jauh lebih rumit, karena kita sama-sama adalah orang yang berdosa. Di balik diri kita yang berdosa, sesungguhnya tidak ada yang perlu dimegahkan. Hanya Yesus saja yang mampu menolong serta menyembuhkan setiap kita.
Berapa banyak dari kita yang telah membuat hati orang lain makin terpuruk karena tekanan melalui kata-kata kita? Atau berapa banyak di antara kita yang sudah mengalaminya? Kita harus belajar di dalam menegur seseorang untuk tidak hanya menyatakan kesalahan dan hal yang harus diubah, tetapi juga mengulurkan tangan kita kepadanya dan membawanya di dalam kasih Kristus yang sejati, sehingga ia dapat belajar dari hidup dan teladan yang Yesus miliki.
Menegur dengan tidak menyimpan kesalahan orang lain
Paulus, ketika menegur jemaat Korintus, bukan berfokus pada mengungkit-ungkit masa lalu tetapi mengarahkan kepada pemulihan kepada jalan yang benar. Berbeda dengan Paulus, kita sering menegur seseorang hanya karena kita sudah muak dengan kesalahan-kesalahan mereka yang sudah berlalu. Kita menyimpan terus kesalahan tersebut, yang pada akhirnya membuat teguran kita hanya melampiaskan emosi dan berfokus pada hal-hal negatifnya saja. Kita perlu menyelesaikan asumsi dan hal yang sudah kita simpan dari kesalahan seseorang agar teguran itu dapat bersifat membangun. Kita harus renungkan, apakah Tuhan yang selalu kita sakiti ketika kita datang Ia menyimpan kesalahan kita dan menjatuhkan kita dengan amarah-Nya? Justru Tuhan mengampuni segala kesalahan kita, menyembuhkan diri kita dari dosa, bahkan menebus hidup kita dan memberikan kita mahkota dengan kasih setia-Nya. Terkadang Tuhan memakai orang yang membuat kita kesal untuk memperluas hati kita juga. Kita harus mempunyai kasih yang mementingkan proses terhadap sesama.
Kita perlu menyelesaikan asumsi dan hal yang sudah kita simpan dari kesalahan seseorang agar teguran itu dapat bersifat membangun.
Dari 1 Korintus 13, kita diingatkan bahwa penerapan kasih yang holistik juga tercermin di dalam teguran, sebagaimana Kristus yang menegur dengan kasih harusnya dapat kita terapkan di dalam kehidupan kita. Kiranya melalui teguran juga kita makin bertumbuh dan dalam memberikan teguran kita juga bertumbuh dengan cara yang bijaksana, sehingga relasi terhadap sesama menjadi cerminan buah kasih Kristus kepada kita.
Grecia Agustina Purba
Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi
