Buku ini memberikan sebuah perspektif penting bagi pernikahan Kristen: pernikahan bukan terutama tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang dua orang berdosa yang bersama-sama membutuhkan anugerah Allah dan dipanggil untuk bertumbuh dalam kasih kepada Kristus dan satu sama lain.
Buku “Apa yang Anda Harapkan?” karya Paul David Tripp ini merupakan sebuah buku yang membahas kehidupan pernikahan Kristen secara realistis dan Alkitabiah. Tripp tidak menggambarkan pernikahan sebagai relasi yang selalu romantis, harmonis, dan bebas konflik. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa pernikahan merupakan relasi antara dua manusia berdosa yang hidup bersama dan karena itu membutuhkan anugerah Allah, hikmat, pengampunan, serta usaha yang terus-menerus. Melalui baik pengalaman pernikahannya sendiri maupun kisah berbagai pasangan yang pernah dilayaninya, Tripp memperlihatkan bahwa pernikahan yang sehat bukanlah pernikahan tanpa masalah, melainkan pernikahan yang terus-menerus dipulihkan oleh anugerah Allah.
Keterbukaan Tripp dalam menceritakan pergumulan pernikahannya sendiri adalah kesaksian yang memberkati pembaca. Ia menikah pada usia yang relatif muda yaitu umur 20 tahun. Pada awalnya, dia merasa cukup siap menghadapi kehidupan pernikahan dibandingkan orang lain. Namun, perjalanan pernikahannya memperlihatkan bahwa kesiapan secara pengetahuan tidak otomatis membuat seseorang mampu menjalani pernikahan dengan baik. Dia dan istrinya sering mengalami konflik, pertengkaran, saling menyalahkan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Karena itu, Tripp menggambarkan pernikahannya bukan sebagai sebuah pernikahan yang sukses, tetapi pernikahan mereka adalah sebuah kisah cinta yang berulang kali diselamatkan oleh anugerah dan hikmat Allah.
Ada dua nasihat yang penting yang Tripp berikan dalam buku ini. Pertama adalah anugerah yang mengubahkan dan penuh kuasa dari Allah (God’s powerful, transforming grace). Kedua, hikmat yang mengarahkan ulang kehidupan (His life-rearranging wisdom). Tripp menekankan bahwa pernikahan tidak dapat hanya dibangun berdasarkan kemampuan, pengalaman, komunikasi, atau usaha manusia. Pernikahan membutuhkan pekerjaan Allah yang terus-menerus di dalam kehidupan suami dan istri. Anugerah Allah bukan sekadar pengampunan terhadap dosa masa lalu, tetapi juga kuasa yang terus bekerja untuk mengubah hati dan perilaku manusia. Sementara itu, hikmat diperlukan supaya pasangan mampu melihat kembali kehidupan, konflik, harapan, dan keputusan mereka berdasarkan perspektif Allah.
Tripp memberikan perhatian besar terhadap masalah dosa dalam pernikahan. Menurutnya, salah satu penghancur terbesar pernikahan bukan terutama persoalan ekonomi, perbedaan karakter, komunikasi, atau keadaan eksternal, melainkan dosa yang ada dalam hati manusia. Dosa membuat seseorang berpusat pada diri sendiri, sehingga kebutuhan, keinginan, perasaan, dan kepentingan pribadi menjadi lebih penting daripada kepentingan pasangan. Akibatnya, suami dan istri mudah saling menuduh, mencari alasan, menyimpan daftar kesalahan, membenarkan diri, dan membangun kepahitan. Tripp tidak hanya mengajarkan pasangan untuk memperbaiki komunikasi atau mencari teknik menyelesaikan konflik, tetapi membawa persoalan pernikahan sampai kepada persoalan hati manusia. Masalah eksternal dalam pernikahan sering kali merupakan manifestasi dari masalah internal, yaitu hati yang telah dipengaruhi dosa. Dengan demikian, pembaruan pernikahan membutuhkan pembaruan manusia oleh anugerah Allah.
Karena dosa menjadi masalah utama dalam pernikahan, maka sangat penting untuk menyelesaikan masalah dosa itu. Bagaimana caranya? Dengan pengakuan dosa pada Tuhan yang sungguh-sungguh dan belajar rekonsiliasi dengan pasangan. Pasangan tidak boleh terus berada dalam siklus saling bermusuhan dan menyalahkan. Mereka perlu belajar mengakui dosa dengan rendah hati dan memberikan pengampunan. Rekonsiliasi berarti pemulihan relasi yang telah rusak dan tidak tepat. Dalam perspektif Kristen, pengampunan terhadap pasangan tidak berdiri sendiri, tetapi berakar pada pengampunan yang telah diterima manusia dari Allah melalui Kristus. Karena Allah telah mendamaikan manusia dengan diri-Nya, orang percaya dipanggil untuk mengusahakan rekonsiliasi dalam relasi dengan sesama.
Salah satu ilustrasi yang menarik dalam buku ini adalah gambaran pernikahan sebagai kegiatan bercocok tanam. Pernikahan tidak dapat diperlakukan seperti sesuatu yang akan tumbuh dengan sendirinya. Sebagaimana tanaman membutuhkan tanah yang baik, benih, air, pemeliharaan, dan perhatian terus-menerus, demikian pula pernikahan membutuhkan usaha yang konsisten. Apa yang ditanam dalam kehidupan pernikahan pada akhirnya akan dituai. Kasih, kesetiaan, pengampunan, kejujuran, dan perhatian yang ditanam setiap hari akan menghasilkan buah dalam relasi. Sebaliknya, kepahitan, egoisme, kebohongan, dan ketidakpedulian juga akan menghasilkan konsekuensi dalam kehidupan pernikahan. Konsep tersebut menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas menuju pernikahan yang sehat. Suami dan istri perlu terus-menerus mengusahakan relasi mereka. Pengakuan dosa, pengampunan, komunikasi, pelayanan, kepercayaan, dan kasih harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pernikahan yang sehat bukan hasil dari satu keputusan besar, tetapi buah dari banyak keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Tripp juga memberikan peringatan mengenai pernikahan yang manipulatif. Relasi suami istri dapat berubah menjadi relasi yang tidak sehat seperti racun ketika salah satu pihak menggunakan ancaman, pembayaran, atau rasa bersalah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Manipulasi semacam itu bertentangan dengan kasih Kristen karena pasangan tidak lagi diperlakukan sebagai pribadi yang harus dikasihi, melainkan sebagai sarana untuk memenuhi keinginan diri sendiri. Karena itu, kehidupan pernikahan perlu dibangun berdasarkan kasih dan pelayanan, bukan penguasaan dan manipulasi.
Buku ini juga menekankan bahwa pernikahan merupakan tempat bagi suami dan istri untuk bertumbuh dalam melayani satu sama lain. Pernikahan bukan terutama tempat untuk mendapatkan apa yang diinginkan dari pasangan, melainkan tempat untuk memberikan diri dalam kasih. Kesetiaan, kepercayaan, pengorbanan, empati, perlindungan, dan perhatian menjadi bagian penting dari kehidupan pernikahan Kristen. Prinsip ini sejalan dengan gambaran Alkitab mengenai kasih yang tidak mencari keuntungan diri sendiri dan panggilan suami istri untuk saling mengasihi dalam Tuhan.
Pada bagian akhir, Tripp merumuskan beberapa komitmen praktis yang dapat menjadi kerangka bagi pasangan Kristen dalam membangun pernikahan yang sehat. Enam komitmen tersebut adalah:
- Komitmen untuk memberikan diri kepada gaya hidup yang teratur dalam pengakuan dosa dan pengampunan.
- Komitmen untuk membangun pertumbuhan iman dan mengubah agenda kehidupan sehari-hari.
- Komitmen untuk membangun ikatan kepercayaan yang kokoh.
- Komitmen untuk membangun relasi kasih dengan pasangan.
- Komitmen untuk menyelesaikan perbedaan dengan penghargaan dan anugerah.
- Komitmen untuk melindungi pernikahan.
Melalui enam komitmen ini, Tripp melihat pernikahan sebagai sebuah proses pengudusan. Pernikahan bukan hanya mengenai kebahagiaan pribadi, tetapi juga merupakan sarana yang Tuhan pakai untuk membentuk karakter, menyatakan dosa, mengajarkan pengampunan, dan menumbuhkan iman. Dengan demikian, pasangan tidak hanya bertanya, “Bagaimana supaya saya bahagia dalam pernikahan?” tetapi juga, “Bagaimana Allah sedang memakai pernikahan ini untuk membentuk saya makin serupa dengan Kristus?”
Tripp tidak menawarkan formula sederhana untuk menghilangkan konflik dalam pernikahan. Sebaliknya, ia mengarahkan pasangan kepada realitas dosa, kebutuhan akan anugerah, pentingnya pengakuan dosa, pengampunan, rekonsiliasi, dan pertumbuhan iman. Pernikahan yang sehat bukanlah pernikahan yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan pernikahan yang terus kembali kepada Allah dan membiarkan anugerah-Nya bekerja di dalam kehidupan suami dan istri.
Buku ini memberikan sebuah perspektif penting bagi pernikahan Kristen: pernikahan bukan terutama tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang dua orang berdosa yang bersama-sama membutuhkan anugerah Allah dan dipanggil untuk bertumbuh dalam kasih kepada Kristus dan satu sama lain. Pernikahan yang sehat perlu terus diusahakan, dipelihara, dan dilindungi dalam terang firman Tuhan. Dengan demikian, pernikahan bukan hanya menjadi tempat manusia mencari kebahagiaan, tetapi juga menjadi salah satu sarana Allah membentuk umat-Nya makin dewasa dalam iman.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi yang masih berpacaran, khususnya pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan, pasangan yang baru menikah, maupun pasangan yang sedang mengalami pergumulan dalam kehidupan rumah tangga. Karena dengan membaca buku ini, mereka dapat diperlengkapi dengan kebenaran firman Tuhan baik tentang relasi suami istri maupun mempersiapkan menghadapi konflik yang dialami. Buku ini juga relevan bagi pendeta, konselor Kristen, pembimbing pranikah, dan pelayan gereja yang mendampingi pasangan dalam menghadapi berbagai persoalan pernikahan.
Meskipun Tripp sempat menyebutkan gangguan media sosial secara sekilas (seperti menulis respons Facebook), namun buku ini ditulis sebelum era ledakan smartphone, Instagram, TikTok, dan algoritma adiktif. Pasangan muda masa kini bergumul hebat dengan “layar yang memisahkan keintiman di satu ranjang.” Harapan penulis ke depannya adalah tersedianya buku-buku pernikahan yang juga memberikan panduan praktis tentang etika digital dalam pernikahan, batasan privasi di media sosial, serta bahaya pornografi internet yang makin mudah diakses secara instan, sehingga dengan demikian dapat menolong pasangan untuk lebih berhikmat dalam menggunakan media sosial yang menjadi tantangan di zaman ini.
Pdt. Nathanael Marvin Santino
Hamba Tuhan GRII Solo
