Transkrip

Iman, Pengharapan, dan Kasih (Bagian 12): Doktrin Iman

Kini kita akan membahas tentang iman yang sejati. Sekalipun kita sudah lama menjadi orang Kristen, dan mungkin sudah cukup lama merasa menjadi orang beriman, kita tetap perlu untuk meneliti kembali apa itu iman yang sejati. Tuhan tidak mau kita menjadi orang Kristen yang membabi buta dan naif. Tuhan tidak mau kita menjadi orang Kristen yang kurang pengetahuan, hanya beriman dengan kalimat-kalimat kiasan, tetapi tidak mengetahui makna yang sesungguhnya.

Selama ini apa yang saya kerjakan dikabulkan, disetujui, dan diberkati oleh Tuhan. Sekolah Kristen Calvin sedang dibangun. Universitas akan memakai tempat ini [ed: RMCI] untuk dua hingga lima tahun, lalu kemungkinan akan pindah ke BSD. Di BSD juga akan dibangun gereja. Sesudah itu saya harap bisa mendapat tanah yang tidak terlalu jauh untuk kuburan. Jika Tuhan memberkati, kita harap menjadi berkat bagi orang miskin, yang kurang uang untuk membeli kuburan. Kita mendirikan universitas untuk menerima murid yang pintar dan kurang uang, tetapi mempunyai otak yang baik, sehingga gerakan ini menjadi gerakan yang sangat memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang di seluruh Indonesia. Kita bukan hanya melayani orang kaya, tetapi kita akan melayani umat Tuhan. Yang kaya jangan lupa mencari uang untuk Tuhan. Ada satu orang kaya yang mendadak sadar, lalu dia mengatakan, “Kalau saya mempunyai banyak uang tetapi tidak tahu mau ke mana, bukankah itu seperti mobil mahal, diisi bensin sampai tangkinya penuh, lalu distarter, tetapi tidak tahu mau ke mana?” Pokoknya mobilnya membanggakan, bensinnya penuh. Ini orang gila yang tidak tahu hidup untuk apa.  

Begitu banyak orang di dunia, hidupnya tidak ada tujuan, tidak ada arah, tidak ada sasaran, pokoknya main-main, putar-putar, jalan-jalan. Tuhan berkata, “Mulia bagi Allah di tempat yang Mahatinggi.” Kalimat kedua, “Damai di bumi bagi orang yang diperkenan Tuhan.” Engkau mau damai, engkau mau sejahtera? Mau. Tetapi engkau tidak mau menjadi manusia yang diperkenan Tuhan. Hanya doanya pintar, ikut kebaktian rajin, tetapi tidak minta diperkenan Tuhan. Bagaimana Tuhan memberkati? Mulia bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, baru di bumi ada damai bagi orang yang diperkenan Tuhan. 

Mari kita menjadi orang Kristen yang berkenan kepada Tuhan. Menjadi orang Kristen yang hidup damai, baik, jujur, bertanggung jawab, dan tidak main-main. Menjadi orang Kristen yang hidup suci, bijak, dapat menahan dan mengontrol diri agar berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian, kita memuliakan Tuhan di tempat yang tinggi. Ia menurunkan damai sejahtera bagi kita yang berkenan kepada-Nya. Inilah berita Natal. Malaikat berkata kepada gembala di padang, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Damai sejahtera akan diberikan kepada orang-orang yang berkenan kepada Allah. Dari sini, kita akan belajar beberapa definisi paling penting mengenai iman. 

Pertama, iman adalah berpaling kepada Allah. Ketika engkau kembali dan memandang kepada Allah, ini merupakan suatu semangat arah. Sasaran hidup rohanimu adalah menghadap kepada Allah. Inilah iman. Orang beriman adalah orang yang hidupnya menghadap Tuhan, berpaling kepada Tuhan. Orang yang percaya Tuhan adalah orang yang hidup di hadapan Tuhan. Allahku, aku hidup memandang kepada-Mu, aku datang kepada-Mu, dan aku kembali ke arah-Mu. Itulah iman. 

Iman bukan sekadar mengangkat tangan di dalam sebuah kebaktian kebangunan rohani dan mau percaya. Iman bukan omongan, bukan ide. Iman sejati adalah arah yang sungguh-sungguh berpaling, berputar kembali kepada Tuhan, dan hidup menghadap Tuhan. Rohmu menghadap siapa? Engkau hidup di depan siapa? Engkau hidup untuk memperkenan siapa? Setiap kita harus hidup berpaling dan menghadap Tuhan. 

Orang beriman menghadap terang, maka orang beriman bayangannya tidak mungkin berada di depan. Jika engkau menghadap terang, bayanganmu akan ada di belakang. Jika melihat bayangan berada di depan, artinya engkau telah membelakangi iman. Jika engkau menghadap terang, bayanganmu pasti di belakangmu. Saat ini seluruh manusia celaka karena melihat bayang-bayang dirinya di depan. Rusia, Amerika, Inggris, Eropa seperti itu, Tiongkok lebih lagi, Indonesia juga seperti itu. 

Koruptor di Brasil telah dibongkar, satu per satu masuk penjara. Ada belasan presiden di dalam sejarah Korea Selatan, lima masuk penjara karena korupsi. Di antara lima tersebut, ada dua yang Kristen. Mereka dari muda ikut pelayanan mahasiswa, tetapi setelah jadi presiden, lupa iman Kristen, lupa bermoral seperti Kristus, dan mereka korupsi. Di Barat juga banyak presiden masuk penjara. Mengapa demikian? Karena jika manusia sudah melihat uang dan keuntungan, mata dan hati nuraninya menjadi buta, dia tidak bisa lagi menjaga kesucian. 

Setiap orang dari permulaan harus memelihara hati di hadapan Tuhan. Banyak orang yang menjadi hamba Tuhan, di permulaan berkata, “Tuhan, Tuhan, aku mau menjadi hamba-Mu.” Ketika ia sudah tua, teriaknya bukan, “Tuhan, Tuhan,” tetapi, “hantu, hantu,” sehingga ia mulai menyeleweng, berkompromi, dan belajar kejahatan. Banyak pendeta yang korupsi dan tidak beres. Pertama-tama hidup suci, ketika tua mencari pelacur, menjadi orang yang tidak jujur. Berbahagialah mereka yang dari permulaan sampai akhir tekun berjalan dalam keadilan, kesucian, dan ketaatan pada prinsip Alkitab dan Roh Kudus, berjalan setia dalam Tuhan. 

Saya harap saya boleh bersih sampai mati, menjadi contoh yang baik untuk menyinari zaman ini, untuk GRII, Indonesia, dan setiap orang Kristen. Dari sejak berusia tujuh belas tahun, saya menjadi hamba Tuhan, berkhotbah sampai sekarang, lebih dari 600 kota yang dikunjungi, sekitar 35 juta orang yang mendengar khotbah saya. Saya tidak boleh sombong, harus tetap rendah hati, murni, dan menyerahkan diri di bawah pimpinan Tuhan, supaya boleh menjadi teladan yang baik bagi kalian semua. Selama hidup, saya berusaha terus mengikut Tuhan, taat kepada Tuhan. Setelah saya mati, engkau boleh mengambil teladan saya, menjadi orang Kristen yang baik. Banyak orang kaya yang tidak senang kepada saya, karena saya tidak mudah dan tidak mengerti bagaimana memuji orang kaya. Banyak orang ketakutan karena Stephen Tong khotbahnya keras, mereka ikut kebaktian di tempat lain, dipuji-puji oleh pendetanya. Pendetamu ini bukan memuji orang kaya, bukan mencari jasa, menyenangkan orang di dunia. Saya hanya punya satu Tuan, yaitu Yesus Kristus. Saya hanya berusaha menyenangkan Dia, karena Ia yang mati bagi saya. Engkau berapa kaya, tidak ada hubungan dengan saya. Engkau tidak pernah mati untuk saya, engkau hanya punya uang lebih banyak. Engkau hebat tetapi di hadapan Tuhan siapa pun harus bertanggung jawab. 

Iman berarti hidup menghadap Tuhan. Apakah engkau hidup di dunia ini menghadap kepada Allah? Apakah engkau menghadap kepada kebenaran-Nya, keadilan-Nya, dan kesucian-Nya? Apakah engkau menghadap kepada Tuhan yang membenci dosa, kepada Tuhan yang mengasihi orang yang menjadi musuh-Nya, dan yang rela berkorban bagi mereka? Tuhan dan sifat Ilahi-Nya harus menjadi dasar moral kita. Jika moral kita mengikuti teladan Kristus, kita hidup di dalam Kristus dan menghadap kepada-Nya, ini namanya orang beriman. 

Setiap orang jika beriman mempunyai arah baru. Arahnya bukan dunia, bukan uang, keuntungan, kedudukan, kekayaan, atau kemuliaan yang fana, tetapi arahnya adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya yang kekal. Hanya menyenangkan Tuhan, hanya hidup menghadap kepada Tuhan, dan hanya minta diperkenan Tuhan. Dengan demikian imanmu adalah iman yang sejati. Jika engkau berkata bahwa engkau percaya Tuhan, tetapi hatimu berpaling dari Tuhan dan membelakangi Tuhan, engkau adalah penipu, tidak jujur, dan akan dibuang oleh Tuhan. Manusia yang diperkenan Tuhan adalah manusia yang menjadikan Tuhan di depannya. 

Hidup di hadapan Allah berarti Allah di hadapanmu. Dengan Allah di depan saya, maka saya tidak berani sembarangan, tidak jujur, tidak benar, dan tidak suci, karena saya tahu saya sedang dilihat Tuhan. Ketika Tuhan dengan pandangan-Nya yang suci melihat engkau dan sangat dipuaskan karena engkau hidup dalam kesucian, maka Tuhan berkata, “Inilah anak-Ku, inilah hamba-Ku. Silakan masuk, terimalah kebahagiaanmu karena Aku sudah menyediakan bagimu.” Yang paling menakutkan ketika harus bertemu Tuhan, Tuhan mengatakan, “Meskipun engkau berkhotbah demi nama-Ku, bernubuat bagi nama-Ku, mengusir setan dengan nama-Ku, menyembuhkan orang sakit dan melakukan mujizat karena nama-Ku, tetapi hatimu jauh dari pada-Ku. Apa gunanya engkau berbakti kepada-Ku dan sembah sujud kepada-Ku?” Inilah kepura-puraan, inilah kemunafikan, inilah kata-kata yang sering diucapkan Yesus ketika memarahi orang Farisi. 

Orang Farisi adalah orang beragama yang paling tinggi kelasnya di dalam masyarakat Yahudi. Ketika Yesus hidup di dunia, Ia berkata, “Celakalah engkau orang Farisi yang pura-pura. Celakalah engkau ahli hukum (ahli Taurat) yang munafik, karena mulutmu membicarakan kebenaran, tetapi hatimu jauh dari padanya.” Orang yang beriman kepada Tuhan adalah orang yang dengan seluruh hidup dan jiwanya menghadap Tuhan. Saya menaruh Tuhan di depan dan hanya hidup menghadap Tuhan. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24). Inilah kalimat Daud. Daud juga berkata, “Tuhan, Engkau menilik aku, bukan? Engkau memeriksa hatiku? Ketika aku berdiri, aku berbaring, aku duduk, atau aku berjalan, semua tidak ada yang tertutup dari hadapan-Mu.” 

Setiap saat, setiap peristiwa, setiap kalimat dan tindak tanduk yang manusia lakukan, tidak dapat menipu Tuhan. Tuhan adalah Tuhan yang Mahakuasa dan Mahatahu. Ia melihat sampai ke dalam hati kita semua. Daud mengatakan, “Dari jauh Engkau sudah melihat aku. Ketika aku berbaring, Engkau sudah menilik hatiku; ketika aku berdiri, engkau sudah mengenal pikiranku.” Daud mengatakan Tuhan tahu semua. Tetapi baru di bagian akhir Daud berkata, “Selidikilah hatiku.” Daud tidak mengatakan ini dari permulaan, karena ketika pada awalnya Tuhan menyelidiki dirinya, ia tidak tahu. Sekarang ia minta diselidiki lagi agar ia tahu. Bedanya, melihat segala sesuatu melalui mata Tuhan tidak mungkin salah. 

Jika menilai segala sesuatu dengan mata kita sendiri, pasti banyak kesalahan terjadi. Tetapi ketika kita bisa melihat segala sesuatu melalui mata Tuhan, maka tidak mungkin salah. Melihat segala sesuatu janganlah menggunakan pandangan subjektif mata kita sendiri. Menilai segala sesuatu harus dengan subjektivitas mata Tuhan. Setiap orang Kristen yang hidup di dalam diri sendiri tidak mungkin maju, tetapi hidup melalui mata Tuhan memungkinkan kita maju pesat sekali. Mengapa ada seseorang yang baru bertobat tiga tahun sudah bisa berkhotbah dan melayani Tuhan dengan begitu baik dan setia, tetapi ada orang lain yang sudah menjadi Kristen berpuluh-puluh tahun namun hidupnya tetap sembarangan? Hal ini disebabkan ia tidak pernah mengubah pandangannya dari subjektivitas diri yang berdosa menjadi subjektivitas Tuhan yang suci. Ia tidak pernah melihat diri melalui pandangan Tuhan. Jika seseorang terus mengikuti pandangan Tuhan, menilai segala sesuatu melalui takhta Tuhan, mengerti kriteria dan cara penilaian Tuhan, hal itu akan membuat orang tersebut tidak mungkin sembarangan jatuh ke dalam dosa. Ini yang disebut hidup menghadap kepada Tuhan. 

Ketika menghadap kepada Tuhan, maka rohanimu beriman. Yang disebut iman, berarti arah dari jiwamu kepada Tuhan, percaya kepada Tuhan. Jika seseorang mempunyai satu tujuan, satu sasaran, hanya kepada Tuhan, hidup menghadap kepada Tuhan, ia adalah orang yang beriman kepada Tuhan. Iman berarti sasaran rohani kepada Tuhan.

Kedua, iman berarti melihat yang dilihat Tuhan. Di dalam Alkitab banyak istilah melihat, “lihatlah Anak Domba Allah”, “lihatlah kemuliaan Allah”, “lihatlah sesamamu”. Di dalam Alkitab, ada seorang buta yang disembuhkan Yesus. Pertama kali ia memegang matanya, Tuhan bertanya kepadanya, “Apa yang kaulihat?” Dia menjawab, “Aku melihat orang berjalan, seperti rimba yang goyang.” Berarti masih kabur, tidak jelas. Tuhan melakukan satu kali lagi, menumpangkan tangan, menjamah matanya. Setelah disentuh lagi, ditanya lagi, sekarang dia melihat apa? “Aku melihat semua dengan jelas.” Tuhan berkata, tanpa diperanakkan oleh air dan Roh Kudus, engkau tidak akan melihat Kerajaan Allah. Hanya melihat Kerajaan Allah saja belum cukup, engkau harus masuk ke dalam Kerajaan Allah. 

Alkitab sangat sering berbicara tentang melihat, melihat, dan melihat. Tetapi apakah engkau melihat dengan jelas? Orang yang melihat dengan tidak jelas, tidak mungkin bekerja dengan baik. Tentang melihat, dalam bahasa Inggris ada empat istilah yang berbeda sekali: 1) blink, artinya engkau mendadak melihat sesuatu dengan jelas, “Oh ternyata begitu,” 2) blank, melihatnya seperti terantuk, matanya seperti tertutup separuh, melihat tidak jelas, 3) blur, melihat semua kacau menjadi satu, tidak jelas apa, 4) blind (buta), tidak mampu melihat apa pun. Blink, blank, blur, blind. Setelah empat hal ini, yang paling celaka adalah black (hitam pekat). Engkau berada di posisi yang mana? Orang yang blink tidak akan sembarangan mengatakan dirinya blink. Ia melihat dengan jelas, juga melihat kekurangan sendiri. Kita perlu blink, diberikan sorotan dan cahaya dari Roh Kudus, sehingga mata rohani kita melihat. 

Yang disebut iman, pertama arahnya dibenarkan, kedua, matanya dijelaskan. Jika mata sudah jelas melihat apa pun, berbeda dengan melihat tidak jelas. Ada orang yang melihat semua kabur, semua sama, tidak bisa membedakan yang istimewa, yang akurat, dan yang benar yang mana. Ada orang yang sudah beriman kepada Tuhan dan sudah percaya, namun ia tidak bisa menjelaskan Tuhan itu bagaimana, karena ia tidak blink, tetapi blank, blur, blind. Akibatnya, ia tidak memiliki definisi atau deskripsi yang akurat untuk membuktikan bahwa ia telah melihat dengan jelas. Jika hati nuranimu sudah dikotori, dikaburkan banyak dosa, engkau tidak pernah dapat melihat apa pun dengan jelas. Mari kita tinggalkan segala dosa, menghapus segala halangan, supaya mata rohanimu melihat Tuhan dengan jernih, dengan jelas. Ini yang namanya iman. 

Ada cerita, ada seseorang yang sudah berjalan sampai Parliament House di London, mendadak ia tidak bisa melihat, karena kota London sedang berkabut. Dia terus jalan sana sini, tetapi tidak dapat melihat jelas, padahal ia ada rapat penting di mana ia sudah harus tiba di sana sepuluh menit yang lalu. Karena kabut tebal, ia belum sampai, bahkan belum tahu arahnya ke mana. Dia ke kanan salah, ke kiri salah, ke depan salah, karena terlalu gelap oleh kabut. Lalu dia mengomel sendiri, “Dua menit lagi saya mesti rapat, mereka perlu saya, dan saya perlu dengar mereka, tetapi bagaimana mau pergi?” Ketika ia sedang mengomel, mendadak di tengah kabut ada satu tangan yang memegang tangannya dan berkata, “Ikut saya!” Ia bertanya, “Siapa kamu? Mengapa saya harus ikut kamu?” Orang itu menjawab, “Saya akan bawa kamu masuk ke Parliament House.” Lalu ia menjawab, “Mau, saya mau.” Lalu tangannya dipegang, satu menit sampai di Parliament House. Ketika orang yang menggandengnya mau pulang, ia berkata, “Jangan pulang dahulu. Saya mau tahu siapa engkau yang begitu hebat, dalam satu menit bisa membawa saya dengan cepat sampai di Parliament House. Apa rahasiamu?” Orang itu senyum-senyum dan menjawab, “Rahasianya hanya satu.” Orang itu menjawab satu kalimat, yang membuat ia kaget setengah mati, “Sebab saya buta.” “Ha? Engkau bisa membawa saya begitu cepat karena buta?” Orang buta tidak dipengaruhi kabut. Berapa pun tebalnya kabut tidak masalah, karena dia buta. Tetapi ia sudah sering di sana sehingga jalan kanan, jalan kiri, dapat ia lakukan tanpa perlu melihat. Ketika kakinya menyentuh satu pintu, dia tahu ini pintu apa. Ketika tangannya memegang sesuatu, dia tahu ini engsel apa. Ia sangat peka dan pintar. 

Apa ajaran dari cerita ini? Ada orang yang matanya besar tetapi tidak melihat apa pun. Ada orang yang buta, apa pun peka, karena dunia ini dunia sindiran, dunia paradoks. Adakah orang kaya yang miskin? Banyak. Adakah orang miskin yang kaya? Juga banyak. Adakah orang pintar yang bodoh? Banyak sekali. Adakah orang biasa yang pintar? Banyak sekali. Mengapa yang pintar menjadi bodoh? Karena mereka mempunyai kepintaran duniawi, bukan kebijaksanaan dari sorga. Mengapa yang bodoh menjadi pintar? Karena mereka dianggap bodoh, kurang sekolah, tetapi hatinya mempunyai naluri yang kuat. Di dunia ini ada orang kaya yang miskin sekali, ada orang miskin yang kaya sekali. Orang kaya yang miskin sekali adalah orang yang bagaimana pun kaya tidak pernah puas. Sudah ada ratusan miliar tetap tidak puas. Maunya untung terus. Ia menipu, menyeleweng, segala sesuatu dikerjakan dengan tidak jujur. Mau kaya, akhirnya paling miskin, menjadi pengemis besar-besaran, merebut dan menipu uang orang lain. Dia mau cepat kaya, akhirnya menjadi miskin. 

Saya pernah berbicara dengan seseorang yang penting agar jangan ingin cepat kaya, akhirnya ia terjeblos. Sudah jatuh, seumur hidup tidak bisa kembali lagi. Orang itu sudah terperosok jatuh, sudah tidak bisa kembali lagi. Sekarang tidak mau lagi ikut kebaktian yang saya pimpin, karena dia pikir dia pintar, padahal bodoh. Di dunia ini banyak orang yang kelihatannya bodoh, tetapi pintar. Banyak orang yang miskin tetapi kaya, karena di dalam kemiskinannya, walaupun uangnya tidak banyak, tetapi masih kasih orang, membantu orang, menjadi orang yang berjiwa konglomerat walaupun kantongnya kantong biasa. Ada orang berkantong konglomerat, tetapi jiwanya pelit luar biasa, sehingga kelihatan kaya, tetapi miskin. Banyak orang konglomerat adalah pengemis besar-besaran, karena mereka terus kekurangan uang, terus mau kaya, terus mengambil uang orang lain. Mereka menjadi pengemis yang berkaliber besar. Tetapi ada orang biasa yang tidak terlalu kaya, ada uang memberi kepada orang, seperti orang kaya. Tuhan membuat mereka bermentalitas kaya. Jika engkau sungguh-sungguh memberi, mengasihani, menghormati orang lain, Tuhan tidak pernah melupakan kita. Dengan demikian engkau melihat yang tidak dilihat oleh orang lain. Itulah iman. 

Mengapa orang yang buta tadi bisa memimpin? Karena ia tidak dipengaruhi oleh kabut. Sekarang kita terlalu banyak yang matanya terbuka lebar, akhirnya yang dilihat hanya kabut, bukan manusia. Banyak orang Kristen yang matanya dibuka terlalu besar, akhirnya tidak bisa melihat anugerah Tuhan, hanya melihat kebanggaan diri, hanya melihat kesombongan diri. Hal demikian berbahaya sekali. Kita harus beriman. Iman berarti mengarah kepada Tuhan dan iman juga berarti melihat pimpinan Tuhan. Kedua hal ini menyatakan bahwa kita beriman kepada Tuhan. Orang Kristen yang mengikuti Tuhan harus melihat apa yang dilihat oleh Tuhan. Jika engkau tidak diperanakkan oleh Roh Kudus, engkau tidak akan melihat Kerajaan Allah. Jika engkau tidak diperanakkan melalui air dan Roh Kudus, engkau tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yang disebut melihat Kerajaan Allah berarti engkau sudah mempunyai iman kepada Tuhan, berarti engkau mengarah kepada Tuhan. Karena iman adalah arah, iman adalah penglihatan. Dalam tema berikutnya, akan dibahas aspek ketiga dari iman, yaitu iman adalah memegang Tuhan. Kiranya Tuhan memperbaiki iman kita, membenarkan iman kita, bukan menjadi orang yang sembarangan. Amin.

Pdt. Dr. Stephen Tong

Oktober 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Seminar Reformasi dengan tema “What if No Reformation?” yang telah diadakan pada tanggal 30 Oktober 2021. Bersyukur untuk setiap firman yang telah dibagikan, kiranya melalui seminar ini setiap kita makin mengerti dan menghargai arti Reformasi yang telah dikerjakan oleh para reformator yang telah memengaruhi segala aspek kehidupan kita, dan kiranya Gereja Tuhan tetap dapat mereformasi diri untuk selalu kembali kepada pengertian akan firman Tuhan yang sejati. 

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲