Iman, Pengharapan, dan Kasih (Bagian 17): Pengharapan (1)

Iman adalah arah rohani seseorang di hadapan Tuhan. Iman adalah penglihatan visi rohani seseorang. Iman adalah pegangan pasti di dalam jiwa kita masing-masing. Iman adalah peristirahatan dan damai sejahtera yang kita nikmati di dalam Tuhan. Iman adalah kunci rohani untuk membuka rahasia rohani, membuka kekayaan, dan membuka gudang janji Tuhan, untuk mendapatkan apa yang diperlukan ketika kita dalam kesulitan. Dan iman adalah tindakan rohani yang kita jalani, taati, serta mengikuti pimpinan Roh Kudus di dalam kehendak Tuhan. 

Kini kita masuk ke dalam topik yang kedua, yaitu pengharapan. Satu Korintus 13:13 menuliskan, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Pemikiran “iman, pengharapan, dan kasih” ini sangat berbeda dengan pemikiran orang Yunani yang mengatakan intelek, kelembutan, dan keberanian sebagai pedoman mereka. Manusia memang memerlukan intelek untuk mengetahui kebenaran dan mempunyai kelembutan di dalam menghadapi semua orang. Keberanian ketika berada di dalam kesulitan peperangan. Intelek untuk mengerti kebenaran. Kelembutan untuk berteman dengan semua orang. Tetapi iman Kristen bukan intelek, kelembutan, dan keberanian (intellectual, benevolence, and courage). Iman Kristen melihat pedoman kehidupan di atas iman, pengharapan, dan kasih (faith, hope, and love). 

Iman penting sekali karena iman berarti kembali kepada Tuhan dan kembali kepada kebenaran-Nya. Setelah beriman, kita kembali kepada Tuhan Sang Pencipta. Dengan iman, kita selalu kembali dan setia kepada Tuhan. Selain itu, otak kita yang dicipta oleh Tuhan juga harus kembali kepada kebenaran Tuhan, kepada kebenaran firman-Nya. Itu namanya iman. Ketika intelek kita kembali kepada kebenaran, itu namanya iman. Ketika manusia kembali kepada Tuhan Sang Pencipta, itu namanya iman. Ini adalah hal yang pertama dan mendasar, fondasi yang paling penting bagi manusia untuk hidup di dalam dunia ini. Dengan iman kepercayaan, kita tidak lagi menjadi orang kafir, tidak lagi berselingkuh, tidak lagi menyendiri, tidak lagi menjadi pemberontak. Iman membawa kita kembali kepada Tuhan dan iman membawa otak kita kembali kepada firman-Nya. 

Iman adalah kembalinya rasio untuk setia kepada kebenaran Tuhan yang diwahyukan kepada kita. Iman adalah kembalinya manusia kepada Tuhan yang menciptakan kita. Yang dicipta kembali menghadap Yang Mencipta, itulah iman. Yang berpikir kembali setia kepada kebenaran, itulah iman. Dengan demikian manusia yang beriman adalah manusia yang kembali kepada Tuhan. Alkitab berkata, selain iman, unsur kedua adalah pengharapan dan pengharapan berasal dari iman, pengharapan berakar di dalam iman. 

Alkitab juga berkata, iman menghasilkan pengharapan. Di dalam Roma 4, Paulus menuliskan, “Ketika Abraham sudah tidak punya hari depan, tidak tahu harus ke mana, tetapi karena imannya ia memiliki pengharapan.” Dari Roma 4 ini kita juga mendapatkan kesimpulan akan wahyu Tuhan, bahwa iman menghasilkan pengharapan. Semua orang yang penuh pengharapan harus mempunyai iman sebagai dasarnya. Semua orang yang mempunyai iman tidak hanya berhenti di dalam iman, tetapi akan ada tindakan nyata, yaitu menjadi orang yang penuh pengharapan. Orang yang beriman berdiri di atas batu karang, orang yang berpengharapan memakai teleskop rohani melihat hari depan. Dengan demikian, iman tanpa pengharapan adalah seperti seseorang yang tidak memakai matanya, tidak melihat hari depan, dan tidak tahu mau ke mana. 

Pengharapan tanpa iman adalah khayalan yang indah, atau cita-cita yang besar, tetapi akhirnya semua menjadi kosong karena tidak memiliki dasar. Dasar iman harus menjadi fondasi kita, barulah kita dapat menegakkan pandangan ke tempat yang jauh di hari depan melalui teleskop rohani yang disebut pengharapan. Iman dan pengharapan; iman dasarnya, pengharapan prospeknya. Karena ada iman sebagai dasar, kita berani melihat ke depan, kita memandang ke tempat yang jauh dengan suatu keberanian untuk menuju ke sana, karena iman yang menjamin kita bukan omong kosong, bukan teori kosong, bukan hanya mimpi belaka. Orang yang beriman bekerja secara konkret, orang yang tidak beriman bermimpi-mimpi kosong. Orang Kristen adalah orang yang diberikan iman di dalam Kristus. Kristus yang memulai dan yang menggenapi iman tersebut. 

Siapa Kristus? Kristus adalah Dia yang menciptakan iman di dalam hati kita dan menggenapkan iman di dalam diri kita pula. Dia yang menciptakan iman dengan bibit yang ditaruh, fondasi yang ditanam, berakar, bertunas, bertumbuh, berdaun, dan berbuah menjadi pohon; hasil dari iman akan keluar dari dalam hati kita, terlaksana di dalam kelakuan kita. Orang yang hidup berdasarkan iman adalah seperti pohon yang berakar. Yang berakar akan berbuah, yang berfondasi akan dibangun dengan kuat, yang mempunyai dasar iman akan menghasilkan pengharapan. Dan pengharapan tidak menjadi sia-sia karena yang diharapkan adalah Tuhan dan janji-Nya. 

Tuhan adalah Tuhan yang kekal, Tuhan adalah Tuhan yang ada, Tuhan adalah Tuhan yang mutlak, Tuhan adalah Tuhan yang hidup, yang sungguh-sungguh sejati. Tuhan adalah Tuhan yang tidak pernah ingkar janji, tidak pernah menelan kembali perkataan-Nya, tidak pernah tidak melaksanakan kalimat-Nya berdasarkan kesetiaan-Nya. Apa yang dijanjikan akan konkret menjadi fakta. Apa yang diberikan Tuhan akan menjadi jaminan yang pasti terjadi. Orang yang beriman kepada Tuhan adalah orang yang akan mewujudkan dan melaksanakan apa yang dijanjikan oleh Tuhan, sehingga imannya menghasilkan pengharapan. Pengharapan menggenapi apa yang dijanjikan. Dan yang dijanjikan akan menuntut kita percaya kepada-Nya. Inilah hubungan antara iman dan pengharapan. 

Allah itu kekal adanya, maka Allah menciptakan manusia dengan diberi kekekalan. Kekekalan adalah salah satu sisi dari peta teladan Allah. Kekekalan merupakan salah satu sisi di antara kekayaan seluruh peta teladan Allah yang sangat berlimpah. Allah yang kekal menciptakan manusia dengan membasuh dan memberikan kekekalan. Manusia mempunyai kekekalan sebagai salah satu sisi sifat Ilahi dari teladan Allah. Maka setiap orang yang mempunyai kekekalan di dalam hatinya berharap kepada Allah. Ketika kita berharap kepada Allah yang kekal, yang memberikan kekekalan sebagai sifat Ilahi kepada kita, kita akan mempunyai kerinduan dan arah kekekalan, mempunyai doa dan permintaan yang menginginkan hal-hal yang kekal. 

Menginginkan yang kekal menjadi salah satu permintaan yang bersuara dan yang tidak bersuara. Tidak ada orang yang ingin mengerjakan sesuatu yang cepat habis. Tidak ada orang yang akan mendirikan usaha yang akan hancur. Kita ingin usaha kita boleh terus ada. Kita harap gereja kita boleh terus ada di dunia ini. Kita harap cinta kita terhadap istri kita boleh diterima selamanya. Maka di dalam cinta, di dalam usaha, di dalam karya manusia, tuntutan abadi, tuntutan boleh diingat, tuntutan jangan lenyap, jangan binasa, jangan gugur, menjadi salah satu tuntutan paling mendasar dan fundamental di dalam pikiran kita. Karena mempunyai tuntutan demikian, itu membuktikan bahwa kita manusia yang dicipta oleh Tuhan. Tuhan yang kekal telah memberikan sifat kekekalan di dalam hati manusia. Karena itu, kita semua menuntut, mengharapkan, merindukan, dan meminta Tuhan memberikan yang kekal kepada kita. 

Di dalam bangunan, ada yang disebut bangunan permanen dan tidak permanen. Bangunan yang tidak permanen tidak perlu minta izin karena hanya sementara. Tetapi yang permanen harus ada Izin Mendirikan Bangunan (IMB) karena akan terus ada, tidak dapat dibongkar. Gereja ini gereja yang permanen. Di dalam gereja ini, ada yang memakai tenda yang tidak permanen; tetapi ada yang permanen mendapat izin membangun, mendapat izin pakai, izinnya lengkap, dan ditandatangani oleh gubernur. Tuhan ingin kita membangun bangunan yang permanen melalui iman kepercayaan. Apakah yang diharapkan oleh iman kepercayaan? Apa yang kita doakan atau rindukan? Kita ingin yang kita bangun, yang kita kerjakan diingat Tuhan untuk selamanya. 

Mazmur 90 adalah mazmur yang berisi kalimat-kalimat yang penting, sebuah syair tentang hidup manusia yang ditulis oleh Musa. Kalimat terakhir dari Mazmur 90 adalah, “Pekerjaan yang kami kerjakan harap diteguhkan oleh Tuhan, karya tangan kami tolong Tuhan abadikan.” Berarti di dalam dunia yang sementara ini kita berdoa, kita berharap dan meminta Tuhan menjadikan apa yang kita kerjakan selamanya diingat oleh Tuhan. Ini adalah pengharapan manusia. Tidak ada binatang yang mempunyai karya abadi, tidak ada binatang yang dapat mengerjakan sesuatu yang diingat selamanya oleh Tuhan. Mereka adalah binatang yang hidup sementara dan mati selamanya. Sesudah hidupnya selesai, matinya juga selesai. Yang dikatakan atau dikerjakannya tidak memiliki arti yang kekal, maka binatang tidak mempunyai kekekalan. Berbeda dengan binatang, manusia diciptakan dengan kekekalan yang Tuhan bubuhi, yang Tuhan taruh di dalam hidup manusia. Allah menciptakan segalanya berdasarkan kehendak-Nya, dan setelah Ia menyelesaikan semuanya, Ia meletakkan kekekalan ke dalam hati manusia. Ayat ini muncul di dalam Perjanjian Lama dan merupakan kalimat bijaksana dari Salomo. Allah menciptakan segala sesuatu sudah lengkap dan sempurna, Ia menaruh kekekalan di dalam hati manusia. Karena itu di dalam Adam ada unsur kekekalan, di dalam dirimu ada unsur kekekalan. 

Ketika manusia menikah, tiga kalimat penting muncul, tidak peduli engkau sekolah tinggi atau rendah, engkau dari Harvard atau dari kampung, atau dari sekolah negeri, semua sama. Ketika akan menikah, yang pria akan berkata, “Aku mencintaimu.” Yang perempuan akan bertanya, “Sungguhkah?” Jika ditanya demikian pasti yang pria tidak menjawab, “Tidak, hanya main-main.” Kalau engkau jawab hanya main-main, berarti tidak usah menikah. Jadi kalimat pertama adalah: sungguh-sungguh. Kalimat kedua, “Hanya saya? Engkau tidak punya lima pacar, bukan?” Jika punya pacar banyak, engkau akan berkata, “Enyahlah engkau, saya tidak mau menikah dengan orang yang pacarnya lima!” Kalimat ketiga, “Sampai kapan?” Maka akan dijawab, “Cinta sampai selamanya!” Tiga hal ini: sungguh, hanya satu, dan sampai selamanya. Jika sekarang engkau sudah menikah, tetapi ada orang lain, berarti engkau kurang ajar, engkau melanggar ciptaan Tuhan. Jika ketiga hal ini tidak diperhatikan, engkau tidak pernah menghargai pernikahan. Ibrani 13:4 menuliskan bahwa setiap orang harus menghargai pernikahan. Di dalam pernikahan, ada tiga hal yang dituntut. Pertama, sungguh-sungguh; kedua, hanya satu; ketiga, selamanya. Ketika suami istri cekcok, berkelahi, berbeda pendapat, tidak apa-apa, pokoknya tetap sungguh-sungguh, tetap hanya satu, dan sampai selamanya. Dalam menghormati pernikahan, bagaimanapun sulitnya hubungan suami istri tetap dapat diselesaikan. Tetapi jika sudah bercabang hati, sudah tidak sungguh-sungguh, hanya main-main dan sudah banyak orang yang ikut campur, sudah membuang janjinya, itu sudah bukan pernikahan, karena itu yang mutlak dari Tuhan, yang kekal adalah Tuhan. 

Tuhan berkata, “Aku menciptakan engkau, Aku memberikan kekekalan di dalam hatimu.” Manusia menjadi makhluk yang dapat mengabdi kepada Allah, makhluk yang dapat berjanji kepada Allah, dan makhluk yang merindukan, meminta, dan menginginkan keadaan abadi. Di situ timbullah yang kedua, yaitu pengharapan. Cinta yang setia kepada Tuhan mengakibatkan iman yang kembali kepada Tuhan. Iman yang setia kepada Tuhan menghasilkan pengharapan kepada Tuhan. Iman yang kembali kepada Tuhan harus setia dan kembali kepada-Nya. Dan setelah iman kepada Tuhan, akan menghasilkan permintaan, kerinduan, dan keinginan untuk diakui Tuhan. Maka iman menghasilkan pengharapan. Jika iman menghasilkan pengharapan, tindakannya akan sesuai dengan arah yang diharapkan. Apa yang engkau inginkan, engkau harapkan, engkau garap, akan membuat engkau berjalan di situ. Engkau bertindak sesuai dengan arah, sesuai dengan permintaan, sesuai kerinduan, karena engkau ingin berharap dengan kekal. 

Pengharapan penting sekali, karena tanpa adanya pengharapan tidak ada hari depan. Hari depan ditentukan dengan pengharapan yang sungguh-sungguh mau mengabdi dan melaksanakan apa yang dirindukan. Ketika engkau mencari Kerajaan Allah, laksanakanlah semua kelakuan sesuai kehendak yang Allah wahyukan. Ketika engkau sungguh-sungguh mau menyenangkan Allah, lakukan setiap tindakan untuk mencari kesukaan Allah. Semua yang menyedihkan Roh Kudus dibuang. Semua yang berlawanan dengan kehendak Tuhan dibuang. Semua yang sesuai dengan rencana Tuhan dilaksanakan dengan tekun, dengan sehati, dan dengan setia. Sepenuh hati dan konsisten kita melakukan apa yang menyenangkan Allah. Dengan demikian engkau mempunyai pengharapan yang sesuai dengan imanmu. 

Seseorang yang mempunyai iman yang sesuai dengan rencana Tuhan akan mendapatkan yang selamanya berarti dan abadi. Inilah pengharapan! Orang yang beriman menghasilkan pengharapan dan pengharapan meneguhkan hidup orang beriman tersebut. Karena pengharapan berpadu dengan iman, maka pengharapan memberikan arah yang benar, memberikan hari depan yang cerah, dan memberikan sasaran yang teguh. Engkau tidak menyimpang ke kanan, tidak serong ke kiri, karena engkau mempunyai satu tujuan pasti di depan. Pengharapan membawa engkau menuju kepada tujuan tersebut dan kekuatan memberikan engkau kemampuan melaksanakan dan menggenapkan semua hal tersebut. Dengan demikian iman dan pengharapan tidak dapat dipisahkan. Pengharapan adalah ekspresi dari iman dan iman menjadi dasar dari teleskop rohani akan pengharapan. Saya sudah beriman, maka saya akan berdiri teguh, saya berpengharapan, saya melihat dengan jelas sekarang dari langkah dasar ini saya mau menuju ke mana. Melalui teleskop rohani saya melihat masa depan saya, saya melihat masa depan saya di dalam tangan Allah. Melalui pengharapan saya bersandar kepada Tuhan. 

Orang Kristen adalah orang yang beriman kepada Tuhan. Dan orang Kristen juga adalah orang yang berharap kepada Tuhan. Kita berharap kepada Tuhan dan menginginkan hari depan yang Tuhan karuniakan berdasarkan iman kita yang sekarang. Kita mengharapkan janji yang telah Tuhan beri tahu untuk hari depan kita. Dengan demikian pengharapan menentukan dan mengisi makna hidup kita. Jika ditanya, mengapa ada orang yang bunuh diri? Orang bunuh diri karena tidak mempunyai pengharapan. Orang bunuh diri bukan karena ia kurang cantik, karena ada bintang film yang cantik sekali, tetapi akhirnya bunuh diri. Orang bunuh diri bukan karena tidak ada uang, karena ada konglomerat yang kaya sekali, akhirnya bunuh diri. Orang bunuh diri bukan karena tidak ada pengetahuan, karena ada profesor yang cerdas sekali, akhirnya bunuh diri. Setelah mereka bunuh diri lalu ditelusuri, ditemukan bahwa semua penyebab mereka bunuh diri itu sama. Hanya satu penyebab: mereka kehilangan pengharapan. 

Jika seorang laki-laki melihat istrinya tidak ada pengharapan bertobat, maunya selingkuh terus, pelan-pelan ia kecewa lalu bunuh diri, itu tindakan yang bodoh. Tetapi ada orang yang melihat istrinya menyeleweng, akhirnya ia menikah lagi. Orang yang pesimistis memilih bunuh diri karena ia terus mengharapkan yang tidak mungkin diharapkan. Jika harapan tidak mungkin terlaksana, jika harapan tidak mungkin terwujud, manusia akan mulai berpikir bahwa hidupnya sudah tidak ada arti lagi. Jika orang sudah merasa bahwa hidupnya tidak berarti, ia akan berani untuk bunuh diri. Jadi sebab utama bunuh diri adalah tidak adanya pengharapan. Oleh karena itu, jika tidak ada pengharapan, bahayanya lebih besar daripada tidak ada uang, tidak ada kesehatan, tidak ada kecantikan, atau tidak ada reputasi. Salah satu musuh terbesar manusia adalah tidak adanya pengharapan. Oleh karena itu, Alkitab berkata, engkau memerlukan iman dan pengharapan. Dengan adanya iman, akan ada pengharapan, maka hari depan engkau cerah adanya. 

Di dalam 1 Petrus ada tertulis kalimat, “Orang-orang demikian hidup di dunia dengan tidak ada Allah dan tidak ada pengharapan.” Mereka memang hidup, dan mereka hidup seperti engkau dan saya, berada di dunia ini. Bedanya mereka hidup di dunia ini tetapi tanpa Allah dan tanpa pengharapan. Dua istilah ini melukiskan kehampaan hidup. Barang siapa hidup di dunia tetapi tidak ada Allah dan tidak ada pengharapan, orang itu seperti binatang yang mati adanya. Tetapi jika orang tersebut hidup di dunia ini dengan mempunyai Allah dan pengharapan, hidupnya penuh dengan makna, diisi dengan arti, dan semua kegiatannya menuju kepada sasaran yang benar, karena Allah dan pengharapan akan mengisi dan menyediakan substansi hidup yang paling hakiki kepada manusia. Hidup di dunia ini yang paling menakutkan adalah tidak ada Allah dan tidak ada pengharapan. Tetapi jika hidupnya diisi dengan Allah dan janji-Nya, firman dan kebenaran-Nya, hidup menjadi berarti. Hidup diisi dengan pengharapan dan sasaran yang benar, maka usaha mereka tidak sia-sia.

Kita bekerja karena kita mengetahui bahwa bekerja ada hasilnya. Kita berusaha dengan keras karena kita mengetahui hari depan kita cerah. Jika kita tidak ada hari depan, tidak ada hasil apa pun dari semua usaha, tidak ada sasaran, untuk apa manusia hidup? Oleh karena hidup mempunyai sasaran, mempunyai arti, dan mempunyai hari depan, maka kita berjuang setengah mati pun tidak takut, bagaimana lelah tetap rela. Anak-anak kita menjanjikan hari depan kita. Ada orang yang miskin sekali, ketika melahirkan bayi ia mulai mengangankan, “Anak ini jika besar, saya harap ia mendapat pendidikan yang baik, saya harap ia bertubuh sehat, saya harap ia bekerja yang rajin, saya harap ia mempunyai moral yang tinggi.” Karena adanya harapan dan sasaran tersebut, ia jadi bergairah. Pengharapan menggairahkan hidup. Di dalam hidup kita, beriman saja tidak cukup, tetapi juga harus menggairahkan pengharapan. Jika engkau sudah mendapat pengharapan dengan sasaran yang benar, melalui janji Tuhan yang tidak mungkin diingkari, hari depanmu akan cerah dan sukses di dalam Tuhan. Amin.