Iman, Pengharapan, dan Kasih (Bagian 21): Kasih (1)

Alkitab berkata bahwa yang ada dan akan ada selamanya adalah iman, pengharapan, dan kasih. Pandangan ini berbeda dengan filsafat Yunani, dan berlawanan dengan kebudayaan dunia lainnya. Menurut orang dunia, hal yang penting adalah kesejatian, kebajikan, dan keindahan, atau kebijaksanaan, kelembutan, dan keberanian. Tetapi Paulus mengatakan tiga hal yang berbeda dengan dua versi tadi. Paulus berkata iman, pengharapan, dan kasih yang penting. Karena iman, pengharapan, dan kasih merupakan prinsip penting dalam Alkitab. Iman berkaitan dengan kebenaran Tuhan. Pengharapan berhubungan dengan janji Tuhan. Kasih berkaitan dengan esensi Tuhan. Maka Paulus berkata yang tersisa adalah iman, pengharapan, dan kasih, dan yang terpenting adalah kasih. Jika tidak ada iman, manusia tidak berhubungan dengan firman Tuhan, karena iman datang dari pendengaran akan firman Tuhan. Firman adalah kebenaran yang Tuhan janjikan dan diwahyukan kepada manusia. Iman akan timbul karena menerima firman Tuhan. Karena iman, kita dipersatukan dengan firman Tuhan. Karena pengharapan, kita dipersatukan dengan janji Tuhan. Karena kasih, kita dipersatukan dengan Tuhan. Maka iman, pengharapan, dan kasih adalah hal yang penting. 

Kasih dimulai dari pendengaran. Di dalam Ulangan 6:4 ditulis, “Hai Israel dengarlah, Allahmu adalah Allah yang esa.” Kata “Allah” memakai bentuk majemuk, kata “esa” memakai bentuk tunggal. Sehingga dari pemaparan ini kita sudah mendapat indikasi bahwa Allah yang esa itu juga adalah Allah yang Tritunggal. Bukan Allah yang sendiri, tetapi ketritunggalan yang bersatu. Dalam bahasa Ibrani kata ini sangat berbeda, tetapi bangsa Israel tidak mengerti akan hal ini, hingga pada Abad XIII, Moses Maimonides, orang paling intelektual dari bangsa Israel menggabungkan dua kata bahasa Ibrani ini menjadi satu kesatuan pengertian yang difokuskan kepada keesaan tanpa memperhatikan kemajemukan kata ini. Sehingga sejak saat itu hingga sekarang, selama delapan ratus tahun lebih, bangsa Israel sulit menerima konsep Allah Tritunggal; konsep mereka adalah Allah yang esa. 

Agama yang tidak dapat menerima konsep Tritunggal adalah agama Islam dan agama Yahudi. Agama Yahudi menerima wahyu dalam Perjanjian Lama, mewarisi konsep Allah yang esa, menerima pengajaran dari Moses Maimonides. Kata Allah yang dipakai adalah bahasa yang bersifat tunggal, mengabaikan kata Allah yang tunggalnya bersifat jamak. Alkitab berkata, “Allahmu adalah Allah yang esa.” Istilah “esa” di sini memakai istilah yang berarti “bersatu”, bukan “satu”. Orang Indonesia mengerti Bhinneka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda tetapi satu. Negara Indonesia hanya satu, tetapi banyak suku, ada Batak, Toraja, Bali, Jawa, Sumatra, Bugis, Palembang, tetapi satu nusa, satu bangsa, satu negara. Kata persatuan dan kesatuan berbeda artinya. Kesatuan, ketunggalan yang tidak ada variasi. Sumpah Pemuda mengandung Bhinneka Tunggal Ika. Allah sangat mengasihi Indonesia, bahkan dalam Pancasila terselubung prinsip Alkitab. 

“Hai Israel dengarlah,” maka bangsa Israel menjadi bangsa yang mendengar, sedangkan bangsa Yunani menjadi bangsa yang melihat. Bangsa Israel mendengar firman Tuhan dan ini membentuk iman mereka, karena iman datang dari pendengaran akan firman Tuhan. Bangsa Yunani dengan pengamatan meneliti alam semesta. Bangsa Israel percaya Allah yang menciptakan alam semesta, beriman kepada Allah Pencipta. Tetapi bangsa Yunani melihat dan meneliti alam yang diciptakan Tuhan. Maka kebudayaan Yahudi dibentuk dari pendengaran, sedangkan kebudayaan Yunani dibentuk dari penglihatan. Karena iman, maka kita telah menerima firman Tuhan. Dengan iman, kita kembali kepada pusat iman yaitu kepada Tuhan. Inilah dasar dari hidup kita, titik awal dari kerohanian kita. Dengan iman kita masuk ke dalam kebenaran, menikmati penyertaan Tuhan. Kita berharap menerima janji Tuhan, mendengar dan percaya pada firman Tuhan. Ketika melihat, kita melihat pimpinan Tuhan. 

Dua indra yang penting, yaitu telinga dan mata, merupakan dua jendela besar dari kerohanian kita, jendela jiwa kita. Rumah yang tidak ada jendelanya, tidak akan ada cahaya yang masuk dan kita juga tidak dapat melihat keluar. Jiwa manusia juga demikian. Jiwa manusia mempunyai dua jendela: jendela telinga dan jendela mata. Melalui dua jendela ini kita menerima kebenaran, melihat fenomena, dan mengerti pengetahuan yang di luar masuk ke dalam jiwa. Mulut adalah pintu jiwa. Jika rumah tidak ada pintu, tidak dapat masuk dan keluar. Yang masuk adalah makanan, yang keluar adalah ide; yang masuk materi, yang keluar rohani. Jika yang masuk adalah makanan yang salah, akan sakit. Jika yang keluar adalah kalimat yang salah, akan celaka. Orang Tionghoa berkata, semua penyakit timbul karena makanan yang masuk itu salah. Semua kecelakaan timbul karena kalimat yang keluar itu salah. Pintu jiwa kita penting. Jika yang masuk tidak beres, namanya maling, namanya racun. Peliharalah jendelamu supaya jangan salah dengar, jangan salah terima cahaya. 

Dengarlah dengan baik supaya yang masuk adalah firman Tuhan, yang masuk adalah kebenaran. Yang kaulihat adalah visimu. Kita sering melihat secara salah, karena tidak memperhatikan yang dilihat, yang diperhatikan hanya uang. Jika orang melihat apa pun, lihatnya hanya uang dan profit, ia tidak dapat melihat makna dan nilai. Jika yang didengar hanya kabar burung dan gosip, ia tidak mungkin mengenal kebenaran. Maka Tuhan berkata kepada Israel, “Dengarlah Israel, Allahmu adalah Allah yang esa. Haruslah engkau mencintai-Nya dengan sebulat hatimu, seluruh pikiranmu, segenap jiwamu, dan sekuat tenagamu.” Cinta dimulai dari mendengar, dengarlah yang benar, maka dapat mencintai Tuhan. Iman, pengharapan, dan kasih, dan yang terbesar adalah kasih. 

Mengapa kasih yang terbesar, bukan iman dan bukan pengharapan? Iman adalah yang paling dasar dan penting, iman menentukan pengharapan dan kasih. Iman adalah alfa, yang awal. Jika awalnya salah, semua salah. Jika awalnya serong, akibatnya akan jauh dari tujuan. Dari iman akan timbul pengharapan, pengharapan dimulai dari melihat. Orang yang beriman kepada Tuhan melihat anugerah Tuhan, melihat rencana Tuhan, dan melihat tujuan yang ditetapkan Tuhan. Dengan iman yang benar, kita melihat yang akhir. Dengan beriman, kita berpengharapan pada titik akhir yaitu dunia kiamat. Tuhan berkata, “Akulah yang awal dan Aku memberi tahu yang akan terjadi di titik akhir. Permulaan dimulai dari Aku dan akhir akan Aku tutup.” Tuhan yang menentukan dunia akan ke mana, memberi tahu jika kiamat akan terjadi apa. Dari alfa sampai omega, ditentukan oleh Tuhan, sejarah tidak mungkin berubah, sejarah akan diakhiri karena rencana Tuhan. Maka engkau harus melihat pada titik akhir dan inilah pengharapan. Iman menghasilkan pengharapan. Pengharapan ditentukan oleh Allah, melalui mujizat, nubuat, dan kehendak yang tidak berubah. Kristus akan kembali, seluruh rencana Allah akan digenapi, karena ini yang dijanjikan Tuhan, yaitu hidup kekal. Setelah dunia ini selesai, kita akan masuk ke dalam dunia kekal karena Tuhan memberikan hidup kekal kepada kita. Orang Kristen mempunyai dasar iman dan hidup kekal. Dalam seluruh perjalanan yang panjang ini, ada yang lebih besar dari iman dan pengharapan, yaitu kasih. 

Kasih adalah yang terbesar karena: pertama, Allah bukan iman, Allah bukan pengharapan, tetapi Allah adalah kasih. Iman adalah memasukkan diri kita ke dalam Tuhan, pengharapan adalah penglihatan kita terhadap janji Tuhan, sedangkan kasih adalah diri Tuhan sendiri. Karena tidak ada yang lebih besar dari Tuhan, maka iman dan pengharapan tidak sebesar kasih. Yohanes Calvin berkata, “Selain Allah, tidak ada yang lebih besar dari kehendak Allah.” Hanya Allah yang tidak terhingga, tanpa batas, hanya Allah yang terbesar, maka selain Allah, tidak ada yang lebih besar dari kehendak Allah. Allah yang terbesar, termutlak, paling sempurna, dan tanpa batas. 

Kedua, kasih adalah yang terbesar karena Allah yang terbesar. Allah tidak perlu percaya kepada siapa pun atau apa pun yang lebih besar daripada Allah. Kita perlu percaya kepada Allah, tetapi Allah tidak perlu percaya kepada yang lain, karena Ia sendiri adalah pusat dan inti dari Objek iman, titik akhir dari semua yang beriman kepada-Nya. Yang terbesar adalah kasih, karena iman dimulai dari diri kita, pengharapan dimulai dari diri kita, mengharapkan sesuatu yang lebih besar dari diri, sedangkan kasih adalah diri Allah sendiri, kasih adalah titik awal yang keluar dari diri-Nya dan juga titik akhir yang akan dituju. Selain kasih tidak ada tujuan lain, karena kasih adalah tujuan akhir. Maka kasih lebih besar dari iman dan pengharapan. Orang yang hidup di dalam kasih adalah orang yang hidup di dalam Tuhan. Orang yang hidup di luar kasih, adalah orang yang berjarak dengan Tuhan, karena Tuhan adalah kasih. Ketika hidup di dalam Tuhan, kita hidup di dalam kasih. Kita tidak perlu lagi merindukan kasih karena kita telah di dalam kasih, telah menikmati kasih, dan telah dipersatukan dengan kasih. Orang yang dipersatukan dengan kasih adalah orang yang dipersatukan dengan Tuhan. Orang yang hidup di dalam kasih adalah orang yang menikmati di dalam Tuhan. 

Ketiga, kasih adalah yang terbesar karena kasih tidak egois, bukan untuk diri sendiri, kasih berkorban. Kasih bukan untuk mendapatkan keuntungan, bukan untuk mendapatkan sesuatu, menyempurnakan diri sendiri melalui sesuatu di luar diri, tetapi kasih mengorbankan diri untuk menyempurnakan yang lain, menggenapkan kehendak Tuhan, maka kasih adalah yang terbesar. Seseorang yang mempunyai kasih adalah seseorang yang mempersiapkan diri untuk berkorban dan rela menyangkal diri. Alkitab berkata, “Jika engkau tidak menyangkal dirimu, engkau tidak layak menjadi murid-Ku.” Ketika kita rela menyangkal diri, maka kita telah menyempurnakan diri kita, terlebih lagi telah menggenapkan kehendak Tuhan dalam diri kita. Penyertaan Tuhan, penyempurnaan Tuhan, melampaui perintah harus menyangkal diri. 

Di dunia ini manusia dibagi menjadi dua macam. Macam pertama, manusia yang terus merugikan orang lain untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri dan tidak peduli jika orang lain rugi. Engkau tidak mungkin terlepas dari egoisme, mementingkan diri, ini hal yang umum dan normal. Tetapi jika di dalam menguntungkan dirimu, engkau merugikan orang lain, itu hal yang jahat. Jika orang lain rugi tetapi juga mendapat bahagia, ini adalah penukaran keuntungan, namanya berdagang yang adil. Saya ambil uangmu, engkau rugi uang, tetapi mendapat barang saya, ini penukaran nilai, penukaran keuntungan, ini dagang yang adil. Saya rugi tidak? Saya rugi. Ketika menjual, barang saya berkurang, ketika engkau beli, uangmu berkurang. Saya merugikan engkau? Iya, tetapi saya memberikan barang saya kepadamu. Engkau merugikan saya? Iya, tetapi engkau memberi uang kepada saya. Jadi waktu saya memberi barang, saya rugi dan juga untung. Engkau membayar dengan uang, engkau rugi dan juga untung. Di dalam perdagangan yang adil ini, hati saya sejahtera, hati engkau sejahtera. Manusia boleh berdagang supaya mendapat untung karena manusia perlu uang. Membesarkan anak perlu uang, menyekolahkan anak perlu uang, membeli makanan perlu uang, membeli pakaian perlu uang. Tetapi jika semua keuntungan yang engkau terima berdasarkan kerugian besar yang harus dibayar orang lain, jika ada ketidakadilan ketika saling menukar nilai, itu melanggar hukum “jangan tamak”. Jika keuntungan yang diterima merugikan orang lain, engkau terlalu tamak, itu berarti berbuat dosa. 

Mari kita baik-baik menjadi manusia, menjadi pedagang yang memikirkan keadilan, sehingga tidak jatuh dalam dosa ketika mencari uang. Dalam mendapat keuntungan, jangan merugikan orang lain, maka hati kita sejahtera dan jiwa kita tenteram. Jika seseorang hanya mementingkan keuntungan diri sendiri dan tidak peduli kerugian orang lain, itu mungkin sudah merusak moral dan keseimbangan masyarakat. Ketidakadilan akan menonjol, kekacauan dan kerusuhan akan timbul, sehingga mengakibatkan peperangan di dunia, menyebabkan kerugian besar. Tentu hal ini tidak diizinkan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah melarang orang berdagang; Tuhan juga tidak melarang orang mendapat untung. Alkitab begitu teliti membicarakan hal ini. Manusia boleh mencari uang, manusia boleh berdagang, manusia boleh mendapat untung, tidak ada salahnya akan hal ini. Alkitab sangat jelas menyatakannya. 

Dalam Alkitab, ada kisah Tuhan memberi lima talenta, dua talenta, dan satu talenta. Yang lima talenta berdagang mendapatkan lima talenta lagi dan Tuhan puji dia. Berarti boleh untung kan? Alkitab mengizinkan. Yang dua talenta pergi berdagang juga, dan mendapat untung dua talenta dan Tuhan memuji dia. Tetapi yang diberi satu talenta hanya menyimpan talenta tersebut sampai tuannya datang kembali. Tuhan tidak memuji dia karena pandai menjaga uang, tidak boros, tidak sembarangan pakai. Manusia boleh cari uang, boleh berdagang, boleh dapat untung, tidak ada salahnya. Alkitab jelas sekali mengatakan hal ini. Justru orang yang tidak berusaha yang dimarahi. 

Banyak orang yang seumur hidup tidak berkembang, tidak pernah sembarangan memakai uang, tetapi tidak pernah untung apa-apa. Dia pikir dia sudah setia, tetapi justru dimarahi Tuhan. Apakah berdosa, jika kita membeli sebidang tanah, beberapa tahun kemudian kita jual dan mendapat keuntungan karena harganya naik? Tidak. Ketika gereja membeli tanah lalu beberapa tahun kemudian harga tanahnya naik, gereja bukan tamak, tetapi gereja memakai prinsip Alkitab untuk mendapat keuntungan, tetapi harus untuk Tuhan, bukan untuk diri sendiri. Jika semua yang dikerjakan untuk keuntungan diri sendiri, bukan untuk kemuliaan Tuhan, itu dosa. Engkau pintar berdagang, tidak salah, tetapi jika berdagang tidak memikirkan kemuliaan Tuhan, hanya untuk dirimu sendiri, itu salah. 

Saya janji iman berani menjanjikan tiga miliar untuk tanah di BSD dan PIK, karena saya mempunyai arloji yang bisa dijual. Saya seorang hamba Tuhan, seorang pendeta, saya tidak punya kesempatan berdagang mencari uang yang banyak. Saya tidak punya uang sebanyak orang kaya. Saya tidak memiliki penghasilan tiga puluh miliar sehingga bisa memberikan perpuluhan tiga miliar. Saya beri tahu rahasia. Saya sangat suka arloji, sehingga sejak muda saya mengumpulkan arloji yang modelnya bagus, mutunya tinggi, dan mesinnya baik. Di luar dugaan, yang saya pilih dan kumpulkan semua yang betul-betul bagus dan harganya makin naik. Arloji itu bisa dijual untuk persembahan. Selain itu, saya juga masih memiliki arloji yang saya janji akan berikan kepada pendeta-pendeta yang sudah berumur lima puluh tahun. Sekarang harganya kira-kira empat puluh jutaan, dahulu ketika beli harganya dua puluh jutaan. Saya janji setiap pendeta yang melayani sampai umur lima puluh tahun, akan saya beri satu Rolex. 

Arloji kelompok pertama yang saya miliki, bukan untuk saya sendiri, melainkan untuk pendeta-pendeta jika mereka setia melayani sampai umur lima puluh tahun. Masih ada satu kelompok arloji lagi yang jauh lebih mahal, jika semua dijual, uangnya untuk pembangunan universitas. Ini janji pendetamu, saya berjanji di hadapan Tuhan, hidup bukan untuk diri sendiri, hidup untuk memuliakan Tuhan. Dahulu ada orang yang menawarkan saya untuk membeli arloji Omega Speedmaster All Gold yang ke bulan. Ketika itu saya berumur lima puluhan, sekarang sudah hampir delapan puluh tahun. Saya membeli jam itu dan sampai hari ini tidak pernah memakainya. Ketika itu saya pikir, “Bagaimana membeli arloji yang berharga 6,500 USD, sementara gaji saya ketika itu satu bulan tidak sampai 60 USD?” Lalu semua uang yang saya simpan, yang saya tabung, hanya terkumpul dua sampai tiga ribu. Saya berusaha menjual arloji yang lain untuk mengumpulkan uang tetapi masih kurang sedikit. Saya minta penjualnya tunggu, jangan terlalu cepat dijual. Dia setuju untuk menunggu beberapa minggu lagi. Saya mati-matian mencari uang, akhirnya terkumpul 6,500 USD. Lalu arloji itu saya beli, saya taruh di kotak, belum pernah dipakai satu kali pun sampai sekarang. Itu untuk apa? Untuk besok-besok dijual, uangnya untuk bangun universitas. Berdosakah saya? Tidak. 

Saya dari hari pertama sampai sekarang, selama tiga puluh tahun tidak untung satu rupiah pun untuk diri sendiri. Ketika itu 6,500 USD, kalau sekarang kira-kira sembilan ratus juta. Tahun lalu ada lelang di Hong Kong harganya sudah 50,000 USD. Sekarang mungkin naik lagi. Saya ingin tunggu naik lagi. Berdosakah? Tetap saya tidak berdosa. Karena kalau untung, untuk bangun universitas, bukan untuk saya. Semua yang saya kerjakan motivasinya untuk Tuhan, bukan untuk diri sendiri. Saya berhak menjualnya, karena saya membeli arloji tersebut, bukan mencurinya. Jika arlojinya naik harga bukan karena saya tamak tetapi tetapi karena pasaran dunia. 

Seumur hidup saya siapkan semua untuk Tuhan. Saya untung segala sesuatu untuk Tuhan. Tetapi kalau engkau bilang, “Jual kepada saya saja, jual yang murah.” Tidak mungkin saya jual murah kepadamu, karena saya tidak boleh merugikan pekerjaan Tuhan untuk keuntunganmu. Semua yang saya janjikan untuk Tuhan harus saya jalankan. Yang milik Tuhan harus jadi milik Tuhan. Yang milik kaisar milik kaisar. Yang harus bantu orang miskin bantulah, orang kaya tidak perlu dibantu. Semua dikerjakan dengan baik dan Tuhan dipermuliakan. 

Dalam dua setengah tahun ini saya akan menjual arloji dengan total sekitar tiga miliar untuk membayar tanah di BSD. Tiga tahun kemudian, saya akan menjual arloji lain lagi yang harganya mungkin lima miliar untuk membangun gedung universitas. Saya tidak tahu berapa banyak uang yang engkau siapkan untuk pekerjaan Tuhan dan seberapa besar engkau bersedia memuliakan Tuhan, melebarkan Kerajaan Tuhan dan banyak berkorban. Saya sebagai pendetamu, seumur hidup akan menjadi teladan, menjadi orang yang dapat dicontoh oleh orang-orang yang mencintai Tuhan. Jadi dalam kasih kita memuliakan Tuhan. Tuhan adalah kasih, maka kasih yang paling besar. Kasih bukan mendapat tujuan yang lain, kasih adalah titik penggenapan dari iman dan pengharapan, titik omega yang sangat berharga, maka kasih paling besar. Di antara tiga hal ini, kasih yang paling besar, karena kasih bukan untuk membela dan menguntungkan diri sendiri tetapi mengorbankan diri untuk menggenapi orang lain. Kasih adalah penyangkalan diri. Kasih adalah pengorbanan diri. Berani mengorbankan diri demi menggenapkan orang lain, itulah yang Tuhan kehendaki dari hidup kita. 

Tuhan berkata, “Jika engkau tidak menyangkal diri, engkau tidak mungkin mengikut Aku. Jika engkau tidak memikul salib, engkau tidak mungkin mengikut Aku.” Semua yang mengikut Tuhan, mari belajar mau menyangkal diri, belajar mau mengorbankan diri. Di dalam mengorbankan diri, kita menjadi berkat bagi orang lain, kita menggenapi orang lain, dan kita menyempurnakan orang lain. Karena itu kasih lebih besar dari iman dan pengharapan. Kiranya Tuhan memberkati kita menjadi orang yang mengerti firman Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan. Amin.