Iman, Pengharapan, dan Kasih (Bagian 22): Kasih (2)

Kasih adalah hal yang paling misterius, ajaib, paradoksikal, dan kontradiktif. Kasih membuat seseorang tidak mementingkan diri sendiri, menyangkal diri, mengorbankan diri, dan memberkati dan menyempurnakan orang lain. Tetapi kasih juga dapat menjadi egois dan membunuh yang dikasihi, menghancurkan yang dikasihi sampai binasa. Kasih dapat sangat menggerakkan hati manusia, tetapi juga dapat sangat mengerikan kejahatannya. Jika dalam kasih tidak ada perintah dan prinsip, kasih menjadi liar. Kasih juga bisa mengandung iri hati dan kebencian. Kasih ajaib dan aneh, konflik dan manis. Kasih sangat sulit dimengerti. Sangatlah tipis dan kabur batasan antara kasih dan kebencian.  

Alkitab mengatakan bahwa kasih dari Tuhan adalah kasih yang suci, tidak egois, serta diikat dan dibatasi dengan perintah yang ketat. Kasih menjadi dasar dari segala perintah. Karena kasih maka seseorang jadi membatasi dan kasih juga memberi kebebasan yang dibatasi. Ini hal yang sulit diterima manusia. Manusia menikmati kasih yang bebas, tetapi mengomel terhadap kebebasan yang dibatasi. Kereta api boleh berjalan secepat mungkin, tetapi tidak boleh keluar dari relnya; jika tidak dibatasi oleh rel, kebebasan kereta api berjalan secepat mungkin akan menjadi kebinasaan. Karena itu kasih mempunyai batasan, perintah, prinsip, dan hukum. Alkitab mengajarkan bahwa kasih bebas tetapi berbatas, diberi kemerdekaan tetapi diberi hukuman. Dalam Alkitab tercantum semua rahasia yang paling konflik dan ajaib, paling paradoks, yang tidak ada atau lebih dari buku mana pun di seluruh dunia. 

Tuhan itu kasih adanya. Dalam kasih Tuhan juga ada cemburu, maka Ia tidak mengizinkan kita mencintai tuhan palsu dan menyembah dewa-dewa. Ia berkata, “Selain Aku, tidak boleh ada allah lain.” Di mana ada kasih, di situ ada iri hati yang suci. Tidak ada suami yang berkata, “Istriku yang kucintai, karena saya mencintaimu, engkau boleh tidur dengan siapa pun, karena itulah kebebasan yang diberikan padamu.” Jika ada, itu suami gila yang tidak beres. Kasih ada batasnya, maka ada hukum dan perintah. Semua perintah tersebut berdasarkan kasih. Paulus berkata, “Semua perintah Allah berdasarkan kasih Allah.” Karena ibu mengasihi anaknya, tidak mau anaknya terbakar api, maka ia melarang anaknya bermain api. Berapa banyak orang karena cinta, keluarganya menjadi indah? Berapa banyak orang karena cintanya menyeleweng, keluarganya menjadi hancur? Jangan main-main dengan cinta karena cinta suci adanya, cinta benar adanya, ada batasan, jalur, dan hukum yang harus dipatuhi. 

Tuhan memberikan hukum Taurat berdasarkan kasih. Kasih Tuhan adalah fondasi dari semua perintah. Semua hukum Tuhan, semua Taurat, semua perintah, berdasarkan kasih Tuhan. Semua yang diberikan Tuhan mengandung prinsip. Semua prinsip yang ditetapkan Tuhan yang membatasi manusia mengandung kasih. Kasih tidak berarti kebebasan liar, ambisi semaunya sendiri, tetapi kasih harus mematuhi prinsip Tuhan. Semua perintah Tuhan berdasarkan hati yang baik dan motivasi yang indah. Ikatan yang ditentukan Tuhan berdasarkan sifat suci, adil, bajik, dan ketentuan yang benar dari Tuhan. Kebenaran, kesucian, keadilan, dan kebajikan adalah empat sifat atribut moral Ilahi yang menentukan Tuhan adalah Sang Pencipta manusia, tidak pernah merusak, merugikan, dan akan memelihara manusia dengan cinta yang ada batasnya, dengan perintah dalam kesucian, dengan segala hukum dari kebenaran, dan dengan kasih yang abadi. 

Cinta ada urutannya, ada ordo yang mana dahulu yang mana belakangan. Menentukan mana lebih dahulu dan mana yang kemudian sangatlah penting. Ini semua dalil yang ditetapkan Tuhan. Dalam segala sesuatu harus ada ordo. Ordo mempunyai prinsip yang ditentukan Tuhan. Apa urutan dalam cinta? Alkitab mengatakan bahwa kita mencintai Tuhan karena Tuhan terlebih dahulu mencintai kita. Adakah orang yang mencintai Tuhan sampai Tuhan sungkan sekali, terpaksa harus mencintai manusia kembali? Tidak ada. Dalam Alkitab urutannya adalah Allah mencintai kita terlebih dahulu, menggerakkan, memengaruhi, menyelamatkan, dan memberikan cinta kepada kita, sehingga kita mencintai Tuhan. Cinta Allah mendahului cinta manusia, menjadi dukungan dan fondasi sehingga kita mencintai Allah kembali. Ini urutannya dan urutan itu penting sekali. 

Jika kita mengetahui apa yang penting, apa yang tidak penting, maka kita mempunyai kebijaksanaan akan apa yang dahulu dan apa yang kemudian. Jika tidak mengutamakan yang seharusnya utama, akan banyak pekerjaan terbengkalai dan akhirnya kacau balau. Orang Barat berkata, “First things first.” Jangan utamakan yang tidak utama, harus utamakan yang utama. Setelah yang utama dikerjakan, yang lain mudah sekali. Kerja apa pun harus pikir mana yang dahulu, mana belakangan. Dalam buku Kong Hu Cu yang berjudul Analek, kalimat pertama dalam buku tersebut adalah, “Segala sesuatu ada yang lebih dahulu, ada yang belakangan, ada kepala, ada ekor. Jika dapat menemukan yang lebih dahulu di mana, yang belakangan di mana, maka sangat dekat dengan kebenaran.” 

Orang Tionghoa mengutamakan Kong Hu Cu, menganggap ia bijaksana, karena dari kalimatnya menyatakan bahwa ia adalah orang yang bijaksana. Kalimat pertama dalam Alkitab adalah, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Jika tidak ada Allah, tidak ada ciptaan. Jika Allah tidak mencipta, tidak ada segala sesuatu. Tuhan mengajarkan segala sesuatu dan menjadi guru terbesar kita, memberikan urutan menurut apa yang Ia tetapkan. Kalimat pertama dalam Perjanjian Lama, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Dalam Yohanes 1 juga ditulis, “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu beserta dengan Allah, Firman itu adalah Allah.” Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memberikan urutan kebenaran yang penting kepada manusia. Manusia di hadapan Tuhan harus mengetahui apa yang utama dan pertama, menjalankan urutan sesuai perintah Tuhan. 

Di sini saya ingin membicarakan bagaimana Tuhan memulai Gerakan Reformed Injili di Indonesia. Gereja Reformed Injili Indonesia merupakan salah satu gereja dalam sejarah Indonesia yang sangat diberkati Tuhan. Keberadaan Gerakan Reformed Injili merupakan pemberian Tuhan yang memperbarui urutan sehingga di Indonesia dimulai satu lembaran baru, menjadi berkat untuk membangun gereja di seluruh Indonesia. Bukan berarti Tuhan tidak memberkati gereja lain; semua gereja diberkati Tuhan, semua gereja adalah anugerah Tuhan.

Tuhan mengizinkan Gerakan Reformed Injili Indonesia ada karena Tuhan akan merevisi, membenahi gereja di Indonesia dengan ordo yang indah. Gereja ini diajar oleh Tuhan bagaimana mengutamakan yang utama. Jangan mengutamakan yang terakhir dan mengakhirkan yang utama. Harus ada urutannya, yang utama diutamakan, yang bukan utama tidak boleh diutamakan. Yang terakhir tidak boleh diketengahkan, harus diakhirkan. Apa yang paling utama? Apa yang paling akhir? Yang paling utama harus menjunjung tinggi Tuhan dan mementingkan Kristus. Kristus berkata, “Akulah Alfa, Akulah Omega, Akulah yang Awal, dan Akulah yang Akhir dan menggenapi.” Yang memulai iman dalam hati kita adalah Kristus, yang mengakhiri, menyempurnakan iman kita pada hari kiamat adalah Kristus. Hal ini tertulis dalam Ibrani 12:2. 

GRII (Gereja Reformed Injili Indonesia) dimulai tahun 1989, dengan seri khotbah pertama, yaitu eksposisi dari Injil Yohanes. Injil Yohanes ayat pertama, kalimat pertama menulis, “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu beserta dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Gereja ini dimulai dengan khotbah mengenai Firman sebagai titik permulaan dari GRII. Jika Yesus datang kembali, saya harap GRII tetap memberitakan firman sampai akhir, dari titik awal sampai titik penyempurnaan. Pada usia 17 tahun, saya sudah mulai berkhotbah, dan khotbah pertama saya dari Yohanes 1. Saya berkhotbah kepada anak-anak kelas 5 dan 6 SD, di satu sekolah Kristen yang meminta saya menjadi guru agama, di mana saya menyusun kurikulum sendiri, mencari bahan sendiri. Sejak umur 8 tahun, saya sudah membiasakan diri membaca Alkitab, apa yang dimengerti baca terus, yang tidak dimengerti dicatat lalu cari kamus atau sementara dibiarkan dahulu, membiasakan diri membaca Alkitab dan membaca terus. Ketika berumur 15 tahun, saya mulai berhenti membaca Alkitab karena tidak percaya pada Tuhan, tetapi percaya evolusionisme, atheisme, dan komunisme. 

Di usia 15 tahun, saya terjerumus dalam aliran filsafat sekuler. Atheisme, komunisme, dan berbagai filsafat sekuler menjadi kebenaran yang saya pegang. Di usia 16 tahun, saya mulai meragukan komunisme. Saya berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, jika Engkau ada, tolong jawab semua pertanyaan saya tentang komunisme, sekularisme, evolusionisme, dan atheisme. Kalau Engkau tidak menjawab, saya akan memegang komunisme seumur hidup. Tetapi jika Engkau menjawab dan saya puas, saya akan keliling dunia menjawab orang-orang yang ragu akan kekristenan.” Puji Tuhan, di permulaan usia 17 tahun, ada orang yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sangat pintar, rasional, dan tajam sekali pikirannya. 

Ketika saya mendengar ada pendeta yang pandai menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan kekristenan dan menjadi orang Kristen sampai mati. Ketika Andrew Gih berkhotbah mengenai Tuhan, keselamatan, dan iman Kristen, saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan pada umur 17 tahun pada tanggal 9 Januari 1957. Mulai hari itu sampai sekarang, sudah lebih dari 62 tahun, saya terus berkeliling dunia mengabarkan Injil. Sampai sekarang Tuhan memimpin saya mengutamakan yang utama, mengutamakan Kristus, karena Kristus adalah Alfa dan Omega. Firman yang dikhotbahkan di gereja ini dimulai dari Kristus sebagai pusat, yang utama dan akhir, sebagai penyempurna. 

Gerakan Reformed Injili dimulai dengan Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) pada tahun 1984. Mengapa SPIK yang pertama? Karena SPIK mengajar doktrin. Banyak gereja yang sudah melupakan dan membuang doktrin, menghina doktrin dan berpikir bahwa doktrin tidak penting, doktrin membuat mengantuk dan malas, maka gereja tidak mau doktrin. Ketika umur 16, saya mendengar ada yang khotbah yang mengajarkan bahwa doktrin tidak perlu. Saya tidak mengerti dan timbul kemarahan. Mengapa orang Kristen tidak ada doktrin, tidak pentingkan doktrin? Ketika itu saya bukan orang Kristen yang baik, tetapi saya sadar doktrin tidak bisa dibuang. Lalu mereka berkata bahwa yang penting kuasa. Orang pintar khotbah, banyak doktrin, tidak ada kuasa, untuk apa? Saya kembali meragukan pikiran mereka. Gereja mana yang dibuang Tuhan? Mereka mengatakan, “Buang doktrin, doktrin tidak penting.” Jika gereja tidak ada doktrin, apa bedanya dengan berbagai agama lain atau pandangan-pandangan dunia lainnya? Mereka juga tidak ada doktrin. Maka harus ada gereja yang mementingkan doktrin. Di usia 17 tahun, saya sudah mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya dari Tuhan, kemudian saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, belajar Kitab Suci baik-baik. Setelah hafal ayat, mengerti firman Tuhan secara tuntas dan menyeluruh, saya pergi mengabarkan Injil. 

Saya pergi ke pinggir jalan, sekolah, rumah sakit, membagikan traktat yang dibeli dengan uang sendiri. Saya tidak minta uang dari gereja. Semua yang diberikan kepada orang lain, saya bayar sendiri. Saya berjanji dalam satu tahun saya akan membagikan traktat kepada 5.000 orang dan mengabarkan Injil. Kemudian saya masuk sekolah theologi, mulai membuang semua yang saya suka. Saya mempunyai 600 piringan hitam. Sehari sebelum masuk sekolah theologi, saya bawa ke toko yang jual piringan hitam dan semua piringan hitam tersebut saya berikan kepada mereka. Tahun 1964 keluar dari sekolah theologi, saya sadar bahwa musik itu baik dan musik untuk Tuhan. Saya beli kembali satu per satu piringan hitam tersebut. 

Langkah pertama, memulai seminar dan pembinaan iman Kristen. Sejak tahun 1964, saya belajar musik sambil belajar Alkitab. Saya pernah dalam satu hari mendengar musik 8 jam untuk mempersiapkan diri dalam mandat budaya. Ketika berumur 40 tahun lebih, saya mulai berpikir bagaimana menegakkan Theologi Reformed dan Gerakan Reformed. Maka, pada tahun 1989, saya mendirikan Gereja Reformed Injili Indonesia. Lalu membuat SPIK di Granada. Pertama kali kita sewa Granada di tahun 1982, biaya sewanya Rp 500 ribu sehari. Ketika itu uang Rp 500 ribu berat sekali. Saya seorang hamba Tuhan, tidak ada uang, tetapi tidak bersandar pada gereja, tidak minta orang kaya, minta Tuhan yang memberikan uang yang cukup. Lalu buat brosur SPIK untuk dibagikan ke semua gereja, dan pasang di surat kabar memublikasikan Seminar Pembinaan Iman Kristen yang pertama di Indonesia. SPIK harus daftar dan bayar. Dalam sejarah Indonesia, ini pertama kali mendengar khotbah harus bayar. Bayarnya murah sekali, tetapi sudah bikin heboh seluruh Indonesia karena ada anggapan mendengar khotbah harus bayar. Saya dituduh pendeta ini menjual Injil. Dari uang pendaftaran cukup untuk bayar gedung, bikin traktat dan makalah yang dicetak dari transkrip yang dikhotbahkan. 

Kita membuat sejarah baru dengan membagikan transkrip khotbah. SPIK pertama yang daftar 1.200 orang. Setelah selesai, semua transkrip khotbah tersebut dijadikan buku pertama terbitan Momentum, yaitu Iman dan Agama. Lalu SPIK selanjutnya Iman dan Wahyu, Wahyu Umum, Wahyu Khusus, Iman dan Kristus, Iman dan Tritunggal, Iman dan Allah Tritunggal, Allah Anak, Kristologi, Iman dan Roh Kudus. Semua tema dijadikan buku. Setiap minggu hari Sabtu saya datang dari Malang naik bus ke Surabaya, dari Surabaya naik pesawat ke Jakarta. Minggu pagi kembali lagi ke Malang. Demikian setiap beberapa bulan sekali ada seminar setiap hari Sabtu selama 6 minggu. Seminar pertama sampai ketiga kali masih di Granada. Selesai seminar yang ketiga saya umumkan akan di Balai Sidang. Semua kaget karena Balai Sidang ketika itu adalah gedung terbesar di Indonesia, satu malam bayarnya ribuan dolar. Stephen Tong mau apa, berani bikin seminar di gedung yang paling mahal di Indonesia? Siapa yang bayar? Saya bilang, tidak ada yang bayar, kita bersandar pada Tuhan, sama-sama daftarkan diri dan lunaskan uang itu. Lalu mulai menaikkan harga pendaftaran dan uang pendaftaran dipakai untuk sewa gedung. Tuhan memberkati gerakan ini, dari 1.200 orang yang ikut SPIK pertama menjadi 1.800 orang, lalu 2.600 orang, lalu 3.300 orang. 

Seminar Iman, Rasio, dan Kebenaran adalah yang paling banyak pesertanya. Seminar ini diikuti oleh orang-orang penting di Indonesia. Banyak pendeta dari gereja lain yang daftar. Dr. Yap Thiam Hien, pengacara paling besar di Indonesia, seorang ahli hukum yang terkenal di seluruh dunia menelepon saya dan bertanya, “Bolehkah saya ikut seminar Bapak Stephen Tong?” Saya menjawab, “Saya sangat menyambut baik Bapak ikut seminar ini.” Sesudah itu saya memberikan satu seminar yang sebenarnya lebih cocok untuk dia, tetapi ia sudah meninggal, yaitu seminar mengenai Keadilan, Dosa, dan Penghakiman dari Tuhan – karena ia ahli hukum yang menangani pengadilan, penghakiman dosa. Kita mengadakan seminar karena ingin membawa bangsa kita dan zaman kita masuk dalam kebenaran Tuhan, ke dalam rencana Tuhan, sehingga seluruh manusia mengerti kehendak Tuhan daripada kemauan sendiri, nafsu manusia, perintah pemerintah yang perlu disesuaikan dengan firman Tuhan. Langkah pertama yang kita kerjakan adalah SPIK, doktrin dalam Alkitab, firman Tuhan, dan ajaran Tuhan yang diutamakan. 

Setelah langkah pertama, langkah kedua, mendirikan sekolah theologi untuk awam, Sekolah Theologi Reformed Injili Jakarta (STRIJ). STRIJ dimulai di Surabaya, lalu Jakarta, Malang, Palembang, Bandung, sehingga kota-kota besar di Indonesia digarap dalam doktrin. Langkah pertama, SPIK, hanya di Jakarta. Langkah kedua, STRIJ di kota-kota besar. 

Langkah ketiga, setiap tahun mengadakan KKR selama 13 hari di gereja Ketapang. Hari pertama 500 orang, hari terakhir 1.200, itu adalah KKR pertama saya pada tahun 1965. Pernah satu hari saya berkhotbah 6 kali di gereja Ketapang, khotbah untuk sekolah, anak-anak, guru, pemahaman Alkitab, KKR, sesudah KKR tanya jawab. Setelah tahun 1965 mulai ke Malang, Surabaya, Semarang, Medan, Kalimantan, Manado, dan kota-kota lainnya. 

Langkah keempat, membangun institusi Gereja Reformed Injili Indonesia. Tahun 1989 saya berkata bahwa saya akan membangun gereja. Semua orang marah. “Engkau silakan mengadakan KKR di mana-mana, menjadi berkat bagi banyak gereja. Sekarang mengapa engkau mau membangun gereja? Engkau sangat ambisius.” Saya menjawab, “Tidak. Saya mendirikan gereja Reformed untuk memperkenalkan dan mengajarkan Theologi Reformed, meneruskan doktrin yang benar, sehingga seluruh Indonesia mulai ada kelompok orang Reformed yang mengerti kebenaran yang paling ketat.” Banyak orang yang tidak setuju saya mendirikan gereja dan saya tidak diundang berkhotbah lagi. 

Langkah kelima, mendirikan sekolah theologi. Kemudian saya membeli 7.000 buku Pdt. H. F. Tan ketika ia meninggal. Semua buku itu ditaruh di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia di Warung Buncit sampai sekarang. Saya juga mendirikan Institut Reformed di Sunter, kemudian dari nol mulai lagi di Kemayoran. Semua dari nol, saya percaya Tuhan sanggup memberi kepada kita. Saya tidak mendekati orang kaya, tidak pernah meminjam uang dari bank. Sekolah theologi adalah wadah pembentukan para hamba Tuhan yang dibutuhkan oleh zaman.

Langkah keenam, saya akan membangun gedung gereja baik di Jakarta maupun di berbagai kota, mulai dari nol dengan janji iman. Semua yang mendengar khotbah saya, dengan rela hati memberikan janji iman. Kita menunggu 16 tahun untuk dapat izin membangun gereja. Sesudah dapat izin kita mulai bangun. Sangat susah mendapat izin, izin prinsip dahulu, lalu izin IMB. Lalu saya merancang desain gereja ini, harus ada tempat parkir paling sedikit 600, kalau bisa 1.000. Dalam gereja tidak boleh ada tiang supaya tidak menghalangi orang, harus ada ruang kelas lebih dari 30. Lalu ada sekolah theologi, ada tempat parkir yang cukup.

Langkah ketujuh, memulai pekabaran Injil di seluruh Indonesia. Semua langkah sesuai prinsip Alkitab. Ketika menjalani langkah ketiga, ada yang mengusulkan mendirikan rehabilitasi narkoba. Tuhan mengizinkan kita jalankan dahulu tetapi akhirnya berantakan dan tutup. Saya kira itu belum waktunya. Langkah keenam Sekolah Kristen Calvin atau SKC. Dan ketujuh, penginjilan di seluruh Indonesia, KPIN dan KKR Regional. 

Selanjutnya kita perlu mendirikan universitas dengan memulai Institut Teknologi Calvin. Kita masih perlu mengerjakan rumah sakit, rumah duka, kuburan, tempat retret. Masih banyak yang belum dikerjakan. Saya sudah tua, sudah hampir bertemu Tuhan. Tetapi dalam tahun-tahun terakhir hidup ini, saya akan keliling dunia 200 kota untuk mengadakan KKR, memberitakan Kristus adalah satu-satunya Juruselamat. Kita harus mempunyai theologi yang ketat, iman yang kuat, mengutamakan Tuhan di atas pendidikan, ekonomi, musik, kebudayaan, sastra, seni, dan lain-lain. Mulai tahun ini, saya akan mengadakan KKR di 200 kota. Setelah selesai KKR di 200 kota sekitar 4 tahun, saya sudah berumur 83, tidak keluar negeri lagi, hanya berkhotbah di gereja sendiri sampai meninggal dunia, dan urutan sudah dijalankan. Di sini saya bicara mengenai urutan karena cinta kasih ada urutannya. Kita mencintai Tuhan karena Tuhan lebih dahulu mencintai kita. Mari mengingat cinta Tuhan dan jangan lupa mencintai Dia. Amin.