Keempat belas, seorang agung (gentleman) mempunyai pengetahuan yang luas dan sebanyak mungkin, tetapi selalu membatas diri di dalam peraturan dan tata krama yang ketat. Jadi dia tidak sembarangan melakukan segala hal yang tidak pantas atau tidak sesuai dengan aturan. Sekalipun ia pandai luar biasa, pengetahuannya berlimpah, tetapi ia tetap membatas diri di dalam peraturan dan prinsip-prinsip tata krama yang ada. Oleh karena itu, semua yang tidak sesuai dengan tata krama dan kesopanan yang baik akan dia tolak. Sekalipun sangat pandai dan berlimpah pengetahuannya, ia tidak membiarkan segala sesuatu dilewati dan diterobos dari tata krama yang baik. Semua harus tetap mengikuti prinsip-prinsip tata krama. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan di dalam Alkitab pada Mazmur 119, “Oh Tuhan, lapangkanlah, bukalah hatiku selebar-lebarnya, tetapi pimpin aku hanya berjalan di dalam perintah-Mu.” Jadi, hati boleh selapang mungkin, tetapi kaki dan kelakuannya harus sesempit mungkin. Inilah orang agung.
Ketika saya membaca hal ini, saya mencoba membayangkan ayat-ayat firman Tuhan yang pernah saya hafal, membayangkan juga tulisan Aristotle, tulisan Konfusius, juga René Descartes, Kierkegaard dan para tokoh lain, untuk mengerti apa perbedaan setiap perkataan mereka. Dan kesimpulannya, semua yang ada pada firman Tuhan selalu agung luar biasa. Namun, ketika kita membaca ayat seperti di atas, kita hanya sekadar tahu dan kehilangan makna penting yang terkandung di dalamnya. “Luaskanlah hatiku.” Tuhan ingin kita membuka hati seluas-luasnya, selebar-lebarnya. Tetapi, “supaya aku bisa berjalan di dalam kehendak-Mu saja.” Jalan di jalan yang sempit. Pengertian dikembangkan seluas mungkin, tetapi batasan dari kebebasan dilakukan sedisiplin mungkin.
Hati boleh selapang mungkin, tetapi kaki dan kelakuannya harus sesempit mungkin. Inilah orang agung.
Kelima belas, seorang agung merangkul moralitas, sedangkan orang picik hanya merangkul tanah liat. Maksud “tanah liat” adalah semua hal-hal kecil yang tidak berarti dan tidak ada harganya. Seorang yang agung selalu merangkul, tetapi hatinya selalu memperhatikan akan hukuman. Sebaliknya, orang picik hanya memperhatikan keuntungan atau hadiah. Jadi seorang yang agung di dalam pikirannya adalah seorang yang selalu memperhatikan semua hukum dan peraturan. Itu yang diperhatikan. Seorang hina atau orang kecil terus berpikir kapan saya bisa dapat hadiah, dapat bonus, dapat uang, dan bisa mendapat segala yang cuma-cuma. Di mana ada hadiah, dia selalu muncul; di mana ada keuntungan, dia selalu ada di sana. Dia selalu hadir di setiap tempat di mana dia bisa mendapatkan keuntungan, mendapat manfaat, hadiah, bonus, dan sejenisnya.
Ada orang Barat mengatakan, “When all the malls are on sale, Chinese nose comes out.” (Di Amerika Serikat, setiap ada obral, semua hidung orang Tionghoa muncul.) Maksudnya, orang Tionghoa tidak mau beli barang mahal, jadi selalu menunggu sampai waktu obral baru mereka berebutan membelinya. Di Indonesia dan di Hong Kong, kami obral setiap hari, jadi orang Tionghoa muncul setiap hari dan berbelanja. Itu karena di Amerika, harga jual dinaikkan tinggi luar biasa. Orang Tionghoa tahu harga modalnya berapa, jadi mereka tunggu ketika obral. Pakaian dari Korea yang senilai tiga dolar bisa dijual di Amerika seharga lima belas dolar, dengan memberi label merek Amerika.
Ketika saya beli hadiah di Amerika Serikat untuk saya bawa pulang, saya menemukan sesuatu yang unik. Saya membeli baju untuk oleh-oleh istri saya, ternyata ketika dibuka bungkusnya, baju itu buatan India. Demikian juga ketika membeli satu kaleng coklat merek dari Swiss, ternyata ketika tiba di Hong Kong dan dibuka, ternyata buatan Hong Kong. Coklat di beli di Swiss, dibawa ke Hong Kong untuk jadi kado orang Hong Kong, ternyata made in Hong Kong (buatan Hong Kong).
Melalui pembahasan ini, kita belajar tentang konsep manusia agung, manusia yang berharkat mulia. Saya percaya ini bukan hal kebetulan, melainkan Tuhan rela memberikan wahyu umum kepada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mendengar firman Tuhan, sementara kebenaran alam semesta berjalan di dalam hati banyak orang yang menuntut kebenaran. Tuhan memberi belas kasihan kepada masyarakat-masyarakat kuno yang belum mempunyai kesempatan untuk mendengar Injil Kristus. Dengan demikian, mereka juga bisa mempunyai pikiran yang agung dan melukiskan watak orang agung itu seperti apa. Jika mendapatkan berkat dari pembahasan ini, kiranya tidak berhenti pada diri kita sendiri. Kita harus membagikannya kepada banyak orang di luar yang membutuhkan kebijaksanaan. Hendaknya kita bertobat terlebih dahulu, minta Tuhan mengubah diri kita terlebih dahulu, agar kita dapat menjadi orang yang lebih agung dan lebih agung.
Tuhan rela memberikan wahyu umum kepada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mendengar firman Tuhan, sementara kebenaran alam semesta berjalan di dalam hati banyak orang yang menuntut kebenaran. Tuhan memberi belas kasihan kepada masyarakat-masyarakat kuno yang belum mempunyai kesempatan untuk mendengar Injil Kristus.
Orang yang agung kita pikir sedang mendongak ke atas. Konfusius mengatakan orang yang agung takut mandat sorga, takut orang besar, takut perkataan orang suci. Orang yang sudah mendengar ajaran Konfusius seperti ini, hendaknya takut kepada apa yang Konfusius katakan. Pria harus meneruskan abu orang tua (menghormati orang tua), pria harus menanggung nafkah seluruh keluarganya, dan pria juga yang harus meneruskan juga keturunan keluarga itu.
Ada satu kalimat dari Konfusius yang sangat menghina orang perempuan. Dia mengatakan, “Susah memelihara dua macam orang, yaitu orang kecil dan perempuan.” Saya kurang bisa mengerti apa yang dimaksud oleh Konfusius. Sangat mungkin para filsuf dan orang-orang agung seperti Konfusius, seperti Sokrates, sulit dimengerti oleh istrinya. Ketika dia sedang memikirkan hal-hal yang besar dan begitu dalam, istrinya tidak menghargai dia. Sokrates sangat sulit di rumah, sehingga ia lebih suka pergi keluar rumah dan lebih banyak bicara dengan murid-muridnya, membicarakan pemikiran filsafat. Ketika dia sampai di rumah, dia sulit berbicara apa pun ke istrinya. Akhirnya, dia mengatakan, “A good wife makes a sweet home for you, a bad wife makes you a philosopher.” (Istri yang baik akan menyediakan rumah tangga yang manis bagimu, sementara istri yang buruk akan membuat engkau menjadi filsuf.) Jadi istri yang buruk jasanya besar juga.
Tetapi mungkin hal seperti itu tidak adil bagi istrinya. Bukan Sokrates atau Konfusius yang sulit dengan istrinya, tetapi istrinya juga akan sulit dengan mereka. Istri-istri seperti ini kesulitan apakah suaminya akan pulang atau tidak pulang, akan makan di rumah atau tidak makan di rumah, perlu disediakan atau tidak, karena seperti Sokrates ketika sedang begitu seru berbincang filsafat dengan murid-muridnya, bisa lupa pulang dan lupa makan. Istrinya masak tetapi makanannya tidak dimakan. Tentu istrinya juga merasa tidak dihargai. Juga kalau tiba-tiba dia mengajak muridnya datang ke rumah dan mau makan, sementara istrinya tidak masak atau tidak memasak cukup banyak untuk memberi makan murid-murid yang diajak pulang, tentu istrinya juga akan kerepotan dan malu. Maka, akibatnya jika istrinya marah-marah, seharusnya bisa dimengerti juga. Jadi, sepertinya orang agung itu mengalami kesulitan dalam pernikahan, sehingga ada benarnya kalimat, “Orang yang terlalu bersifat pemikir sebaiknya tidak usah menikah.” Tetapi jika tidak menikah, tentu akan terjadi kesulitan yang lain lagi. Jadi hal ini akan menjadi kesulitan umat manusia secara umum.
Di dalam majalah Reader’s Digest pernah ada makalah yang membicarakan tentang pernikahan. Di situ dikatakan bahwa setiap perempuan membutuhkan tiga suami. Ini bukan pemikiran Konfusius, melainkan pemikiran filsafat dunia secara umum. Suami pertama mencari uang secukupnya sehingga dia merasa aman, tidak perlu ada kekuatiran apa pun, tidak ada tegangan atau stres. Suami kedua tiap hari mendampinginya dan terus merayu, mengungkapkan kata-kata cinta seperti sedang berpacaran sebelum menikah. Dan suami ketiga adalah suami yang siap membereskan semua barang-barang dan peralatan yang rusak atau kurang berfungsi baik di dalam rumah, seperti ketika ada lampu yang mati, atau setrika yang tidak panas, atau berbagai kerusakan rumah lainnya.
Selesai membaca artikel tersebut, saya kemudian merespons dengan memikirkan bahwa suami juga perlu tiga istri. Istri pertama, cinta-cintaan sama dia, manis-manis setiap hari, intim sekali tidak perlu kerja apa-apa. Istri kedua melahirkan anak, mengurus, dan memelihara keluarga, menjaga rumah, membersihkan rumah, luar biasa sibuknya. Dan istri ketiga menolong suami supaya bisa tetap segar dan sehat. Istri tidak disuruh cari uang, itu tugas suami. Suami yang suruh istri cari uang itu suami kurang ajar. Sekalipun istri bisa cari uang, itu puji Tuhan, tetapi kalau tidak bisa, tidak boleh dipaksa mencari uang, karena memang itu bukan tugasnya. Pria yang belum bisa membiayai keluarga tetapi berani dan mau menikah adalah orang yang butuh iman ganda. Saya tidak mengatakan tidak boleh, tetapi saya hanya mengatakan “butuh iman dobel”. Dan jika pria menikah dengan mencari wanita kaya, itu adalah pria yang hina, pria yang picik (xiao ren). Kiranya kita boleh belajar menjadi orang agung yang berkenan kepada Allah. Amin.
